Pixel Code jatimnow.com

Gus Fawait Siap Turunkan Retribusi Pasar di Jember usai Dilantik

Editor : Zaki Zubaidi   Reporter : Sugianto
Gus Fawait saat blusukan ke Pasar Tanjung beberapa waktu lalu. (Foto: dok. jatimnow.com)
Gus Fawait saat blusukan ke Pasar Tanjung beberapa waktu lalu. (Foto: dok. jatimnow.com)

jatimnow.com - Muhammad Fawait siap merevisi peraturan daerah untuk menurunkan retribusi pasar yang saat ini sangat membebani warga Jember.

Hal ini terkait Perda Jember yang terbit di akhir 2023. Dalam Perda itu retribusi pasar yang harus disetor oleh para pedangan naik 100-200 persen.

"Maka ketika kami dilantik Februari nanti, hal yang pertama kami lakukan adalah mengajukan revisi Perda atau menerbitkan Perbup untuk menurunkan retribusi pasar," kata Gus Fawait, Rabu (18/12/2024).

Diterangkan, pasar tradisional merupakan lokasi perekonomian rakyat miskin kota. Sehingga pemerintah harus hadir melindungi pedagang kecil agar tidak semakin sengsara.

"Salah satunya adalah retribusi pasar tidak boleh kami menaikan seenaknya sendiri. Tanpa ada perbaikan fasilitas pasarnya," tegas Gus Fawait.

Ia mengungkapkan, dalam 4 tahun terakhir tidak ada rehab pasar tradisional sama sekali. Padahal lokasi perputaran uang dan ekonomi masyarakat.

Baca juga:
PKB Jember Apresiasi Cetak Adminduk di Kecamatan: Awasi Bila Ada Pungli

"Pasar tradisional kami compang-camping. Seperti Pasar Tanjung. Itu tidak ada musalanya, petugas kebersihannya dan ini adalah PR kami," ucap Gus Fawait.

Sebelumnya, Gus Fawait pernah berkunjung ke Pasar Tanjung, pada Kamis 3 Oktober lalu. Dari keluhan para pedagang, Gus Fawait berjanji akan menurunkan retribusi pasar jika ditakdir jadi bupati Jember.

Halimah, pedagang sayuran, menyuarakan keresahannya tentang biaya retribusi yang tinggi.

Baca juga:
Bisa Cetak KTP di Kecamatan, Gus Fawait: Warga Pinggiran Jember Kini Tak Kesulitan

"Pajak di sini naik terus, Gus, sudah tidak terjangkau lagi. Tolong nanti kalau jadi bupati, turunkan kembali retribusinya," katanya.

Devi, pedagang di lantai dua, menyampaikan masalah lain. Manajemen pasar yang menurutnya tidak berjalan maksimal.

"Petugas jarang keliling, jadi konflik antara pedagang atas dan bawah terus terjadi. Fasilitas juga tidak ada perbaikan," ungkapnya kecewa.

Saat Harapan Berubah Menjadi Tekanan
Catatan atas Kasus Viral “Pramugari” Khairun Nisa

Saat Harapan Berubah Menjadi Tekanan

Kisah viral tentang seorang perempuan muda yang berpura-pura menjadi pramugari Batik Air justru membuka lapisan persoalan yang jauh lebih dalam