jatimnow alexametrics

JNE Mengubah Hidup Mitra dan Tak Lelah Berinovasi Agar Pasar Dalam Genggaman

Editor : Redaksi Reporter : Budi Sugiharto
Foto: istimewa
Foto: istimewa

jatimnow.com - Melalui proses yang sangat berliku, JNE mampu menjadi salah satu perusahaan yang diperhitungkan di Tanah Air. Terutama bagi mereka yang kerab membeli barang melalui aplikasi secara online atau daring.

Menjadi perusahaan yang bergerak di bidang kurir ekspres dan logistik selama hampir 29 tahun di Indonesia, bukanlah hal yang mudah bagi JNE. Berbagai tantangan dan perubahan jaman menjadi dinamika tersendiri harus dihadapi.

JNE adalah sebuah perusahaan pengiriman logistik yang mempunyai agen yang pada tahun 2018 tercatat 6.800 unit. Sebanyak itu tersebar di wilayah Indonesia. JNE lebih berfokus pada pengiriman barang retail, tanpa batas minimum tak seperti yang lain. Keistimewaan tersebut yang membuat masyarakat jatuh hati memanfaatkan jasa JNE.

"Kirimnya gak harus banyak, apalagi mengirim paket masih satu provinsi, cepat sampai," ungkap Martha Junisa, salah satu karyawati perusahaan swasta di kawasan Jl Jimerto, Surabaya yang selama ini menggunakan jasa JNE dalam setiap pengiriman dokumen dari kantornya.

JNE didirikan pada tahun 1990. oleh Soeprapto Suparno bersama Johari Zein pada 26 november. Perusahaan ini mengawali usahanya hanya dengan delapan orang pegawai. Begitu pula modal pertama hanya Rp 100 miliar.

JNE pada awalnya memilih menggeluti usaha ekspor dan impor, jasa impor kiriman barang, dokumen ekspor-impor serta pengirimannya dari luar negeri ke Tanah Air atau dalam negeri.

https://jatimnow.com/po-content/uploads/advetorial/gempur-rokok-ilegal-portrait-1.jpg

Pada satu tahun sejak berdirinya PT. Tiki Jalur Nugraha Ekakurir, JNE mulai memperluas jaringan ke tingkat internasional. Salah satunya dengan bergabung sebagai anggota assosiasi perusahaan kurir di beberapa negara Asia .

JNE diberikan kesempatan oleh ACCA atau Association Courier Conference of Asia yang berada di Hongkong untuk bergerak ke dalam dan luar negeri. JNE ternyata lebih fokus pada pemgiriman logistik domestik dan berkembang.

Bahkan pada awal tahun 2002, JNE membeli gedung dan mendirikan JNE Operations Scorting Centers. Pada tahun 2004, JNE membeli gedung baru lagi di Jakarta. Itulah yang digunakan sebagai kantor pusat JNE atau atau PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir.

Layanan JNE terus berkembang. Menyediakan jasa kurir, logistik, money remittance hingga jasa kargo. JNE meraih pasarnya.Perlahan-lahan JNE menemukan banyak layanan baru. Money remittance adalah jasa mengirimkan uang dari pemilik rekening satu ke pemilik rekening lainnya atau pemilik rekening yang sama antar wilayah maupun negara.

JNE tak pernah lelah untuk berinovasi agar pasar tetap di genggamnya. Sejumlah inovasi yang sudah ditelorkan JNE, di antaranya: Jemput Bola, Layanan Pesona, layanan YES (Yakin Esok Sampai) hingga JNE Loyalty Card (JLC). JLC merupakan sebuah wadah bagi pelanggan loyal JNE. Di dalamnya disediakan berbagai kemudahan dan benefit dari setiap transaksi yang dilakukan oleh pelanggan.

Sejak tahun 2011, JLC telah memiliki lebih dari 160 ribu member hingga saat ini, dan menggelar berbagai program menarik. Selain penukaran poin dan JLC Lucky Draw, terdapat juga program terbesar yang digelar tiap tahunnya, yaitu JLC Race serta JLC Award.

Khusus program JLC Race yang telah dilaksanakan sejak tahun 2017 dan digelar satu kali setiap tahunnya secara nasional, maka di tahun 2019 ini JNE meluncurkan JLC Race Cabang.

Peluang seluruh pelanggan setia JNE akan semakin terbuka untuk menjadi pemenang JLC Race Cabang di kotanya masing -- masing dengan menjadi member JLC. Program ini akan dilaksanakan serentak di 10 kota, yaitu: Jakarta, Bandung, Tangerang, Depok, Surabaya, Medan, Batam, Malang, Banjarmasin, dan Ujung Pandang, mulai 17 Juli sampai dengan 17 Agustus 2019.

Selama kurun waktu tersebut, member JLC di kota-kota tersebut, baik yang telah bergabung sejak lama maupun yang baru saja mendaftar, memiliki kesempatan untuk meraih hadiah senilai total ratusan juta rupiah.

Dari tiap kota akan ditentukan 3 orang pemenang yang masing - masing mendapatkan hadiah logam mulia atau emas seberat mulai dari 5 gram sampai 25 gram.

Seluruh pemenang ditentukan berdasarkan jumlah transaksi pengiriman dalam periode JLC Race Cabang 2019. Semakin banyak melakukan pengiriman berbagai jenis dan ukuran paket, maka semakin besar pula peluang untuk mendapatkan hadiah menarik dari JNE tersebut.

Sejak diluncurkan pada tahun 2010, JNE terus melakukan pengembangan terhadap JLC, antara lain: perubahan dari kartu fisik menjadi kartu elektronik, kemudahan dalam proses registrasi hingga kemudahan proses penukaran poin.

Kemudahan transaksi dengan menggunakan JLC di hampir seluruh titik layanan JNE, dan kerjasama dengan partner strategis untuk penyediaan berbagai hadiah menarik untuk member. Seluruhnya bertujuan agar para member mendapatkan manfaat dan keuntungan sesuai dengan harapan serta kebutuhan mereka.

Di masa yang akan datang, peluang member JLC untuk mendapatkan poin semakin terbuka. Poin dapat diraih bukan hanya ketika para member JLC bertindak sebagai pengirim paket saja, tapi juga ketika bertindak sebagai penerima paket. Dengan begitu, kesempatan mendapatkan seluruh benefit, termasuk menjadi pemenang dalam JLC Lucky Draw mau pun JLC Race semakin besar setiap tahunnya.

Bagi pelanggan setia JNE yang belum bergabung, dapat mendaftarkan diri agar mendapatkan benefit dari setiap aktifitas pengiriman paketnya di JNE. Caranya pun mudah dan tanpa biaya apa pun, dengan hanya mengunjungi website https://jlc.jne.co.id/ untuk melengkapi persyaratan yang berlaku.

Inovasi dan kolaborasi sekali lagi menjadi kunci utama untuk dapat terus berkembang dan berkarya. JNE hingga kini sudah 3 dekade bahagia bersama.

Namun dari semuanya, yang paling penting dan terus ditingkatkan oleh JNE yang mengusung semangat "Connecting Happiness" adalah kepercayaan pelanggan. Berkat kepercayaan pelangganlah JNE dapat terus berkembang hingga sekarang.

Mengubah Kehidupan Mitra

Muhammad Edi Nurkholis (54) asal Gedongtengen, Yogyakarta pada tahun 1995 menggantungkan penghasilan dari toko kelontong dan warung telepon (wartel) milik keluarga yang dirintisnya. Sejak memutuskan membuka bisnis jasa pengiriman barang, kehidupan Edi berubah.

“Waktu itu kelontong kami semi grosir jadi margin keuntungannya kecil sekali. Selain kelontong, saya juga sempat bekerja di hotel di bagian pembukuan keuangan. Pokoknya apa saja saya kerjakan,” kata Edi seperti dikutip dari jne.co.id pada 25 September 2020. Edi saat itu juga bekerja di salah satu hotel.

“Saya juga sejak dulu sudah punya banyak cita-cita. Saya ingin mengantarkan kedua anak saya ke bangku kuliah, saya ingin naik haji, dan bermanfaat pada siapapun yang membutuhkan. Saya membayangkan suatu saat tiap ada orang butuh datang ke rumah saya, saya bisa memberi,” tambah Edi.

Edi memutuskan menjadi mitra jasa pengiriman barang setelah membicarakan dengan keluaga.

“Tak ada prediksi khusus, pokoknya awalnya hanya ingin bisnis pengiriman barang karena mudah dilakukan di rumah dan risikonya minim. Saya juga bisa leluasa bantu istri urus anak-anak,” terang Edi.

Lantas dibangunlah tempat pengiriman barang itu di sebelah toko kelontong. Saat itu jasa pengiriman barang tak dilirik oleh masyarakat. Sebab perkembangan media sosial sama sekali belum seperti saat ini. Omzet Edi dari jasa pengiriman barang saat itu pun masih hanya Rp500.000 setiap bulan.

Jatuh bangun, Edi tak pernah merasa sendirian. Dia tidak menyerah. Setiap tahun, dia berkumpul bersama mitra JNE lainnya. Di sana dia merasa ilmunya tentang bisnis pengiriman barang..

“Saya hingga kini masih terkesan dengan suatu acara gathering, di situ kami diminta menulis cita-cita di selembar kertas. Kami diminta menyimpan kertas itu dan membacanya setiap hari. Ternyata berpengaruh, kerja lebih fokus, cita-cita tercapai,” kata Edi.

Sejak bergabung menjadi mitra JNE, penghasilan Edi bertambah. Sejak 2002, Edi juga banyak berinteraksi akrab dengan pelaku bisnis kecil yang mengirimkan barang melalui konternya. Beberapa di antara mereka menjadi kawan.

Edi terus menekuni pekerjaannya sebagai mitra JNE hingga akhirnya mulai tahun 2009 hingga 2010, Edi mengamati perkembangan JNE Yogyakarta semakin pesat. Layanan pengiriman yang cepat dan aman membuat para pelanggannya semakin loyal. Akhirnya omzet Edi sebagai mitra JNE pun menjadi besar dan memutuskan menutup toko kelontoknya. Agar fokus.

Kini Edi memiliki 3 pegawai di konter. Edi juga membuka agen baru JNE di Jalan KS Tubun, Ngampilan, Yogyakarta.

“Sekarang saya juga rutin menyumbang ke panti asuhan sebesar 2,5 persen penghasilan saya. Menurut saya, semakin kita memberi, semakin dilimpahkan rejeki kita. Bayangan saya dulu juga terwujud, sekarang setiap ada yang datang membutuhkan uang, saya bisa bermanfaat dengan memberinya sebagai zakat,” ungkap Edi.
#jne #jne30tahun #connectinghappiness #30tahunbahagiabersama

jatimnow.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE