Wabah Virus Corona

Pemuda Muhammadiyah Desak Pemprov Jatim Petakan Daerah Layak PSBB

jatimnow.com - Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur mendesak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim untuk segera memetakan daerah yang seharusnya layak mengajukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Memang, penyebaran Virus Corona (Covid-19) di Jatim terus meluas. Dari 38 kabupaten dan kota di Jatim, sudah 31 daerah menjadi zona merah atau daerah terjangkit Corona. Bahkan di beberapa daerah dengan jumlah kasus tertinggi belum menunjukkan penurunan.

"Dibutuhkan ketegasan dari pemerintah daerah untuk lebih konkret dalam mengambil kebijakan terkait pembatasan sosial. Khususnya bagi Pemprov Jatim," kata Sekretaris PW Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur, Edi Utomo, Selasa (14/4/2020).

Edi menambahkan, Pemuda Muhammadiyah Jatim mendesak agar pemerintah segera memetakan daerah-daerah yang menjadi episentrum peningkatan jumlah kasus Covid-19. Pemetaan itu selanjutnya dapat dijadikan dasar untuk segera mengusulkan PSBB ke pemerintah pusat.

"Jangan hanya menunggu usulan dari daerah. Karena Pemprov (Jatim) bisa pro aktif mengusulkan ke pusat atau berkoordinasi dengan daerah untuk penerapan PSBB itu," tambahnya.

Menurut Edi, penerapan PSBB di Jatim tidak dapat hanya diputuskan satu daerah saja. Karena imbas dari PSBB juga akan berdampak pada daerah lain di sekitarnya.

Misalnya PSBB diterapkan di Kota Surabaya, secara otomatis akan terkait dengan daerah di sekitarnya seperti Sidoarjo dan Gresik. Sehingga dibutuhkan koordinasi yang intensif oleh Pemprov Jatim sebelum menerapkan PSBB.

"Pemprov perlu terlibat dalam mengidentifikasi berbagai dampak yang terjadi jika satu daerah menerapkan PSBB. Karena Sidoarjo dan Gresik merupakan penyanggah Kota Surabaya. Ini harus dilihat secara utuh," ujarnya.

"Begitu pun jika Kota Malang menerapkan PSBB, maka dampaknya juga akan dirasakan Kabupaten Malang sampai Kota Batu," terangnya.

Ia juga menyatakan bila PSBB diterapkan, maka akan berdampak efektif menekan angka penyebaran Covid-19 di Jatim. Karena itu, kepala daerah harus siap meletakkan ego sektoralnya untuk dapat duduk bersama mencari solusi terbaik.

"Surabaya menjadi kota yang paling tinggi jumlah kasusnya. Sementara arus orang yang keluar masuk Kota Surabaya setiap hari masih sangat besar. Maka potensi penyebarannya masih akan terus terjadi pada beberapa daerah di Jatim," jelasnya.

Loading...

jatimnow.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Back to Top