Pixel Code jatimnow.com

Stabilkan Harga Bawang Putih di Tulungagung, Bulog Gelar Operasi Pasar

Editor : Sandhi Nurhartanto   Reporter : Bramanta Pamungkas
Operasi pasar Bulog di Tulungagung
Operasi pasar Bulog di Tulungagung

jatimnow.com - Tekan harga pokok yang masih cukup tinggi, Bulog Sub Divre Tulungagung menggelar operasi pasar di pusat grosir Pasar Ngemplak, Jumat (17/5/2019).

Dalam operasi pasar ini, perusahaan plat merah tersebut membawa bahan pokok seperti beras, gula dan bawang putih. Untuk bawang putih paling banyak dibawa karena harga di pasaran masih cukup tinggi.

Wakil Kepala Bulog Sub Divre Tulungagung, Eri Nurul Hilal mengatakan pihaknya menggelontor 10 ton bawang putih untuk operasi pasar di Tulungagung. Saat ini harga bawang putih di pasar mencapai Rp 30 ribu per kilogram. Sedangkan pihak bulog menjualnya seharga Rp 25 ribu per kilogram.

"Kita tidak bermaksud menyaingi penjualan bawang putih di pasar, tapi minimal harga kita menjadi patokan penjual," ujarnya.

Selain di pasar grosir Ngemplak, operasi pasar ini juga dilakukan di beberapa pasar tradisional lain. Rencananya operasi pasar tersebut akan digelar selama bulan Ramadan. Diharapkan dengan operasi pasar ini harga kebutuhan bahan pokok berangsur turun dan kembali normal.

Baca juga:
Bulog Tulungagung Pastikan Harga Beras Stabil Jelang Nataru

"Kami mencontohkan bahwa harga bawang putih bisa turun semoga yang lain harganya juga berangsur normal," ujarnya.

Sekar, salah satu ibu rumah tangga mengaku terbantu dengan operasi pasar terutama harga bawang putih yang murah. Menurutnya harga bawang putih yang ideal adalah sesuai dengan operasi pasar.

"Maksimal harga bawang putih 25 ribu per kilogram kalau sudah melebihi itu sangat berat," katanya.

Baca juga:
Cadangan Beras Bulog Cabang Tulungagung Cukup Penuhi Kebutuhan 14 Bulan ke Depan

 

Saat Harapan Berubah Menjadi Tekanan
Catatan atas Kasus Viral “Pramugari” Khairun Nisa

Saat Harapan Berubah Menjadi Tekanan

Kisah viral tentang seorang perempuan muda yang berpura-pura menjadi pramugari Batik Air justru membuka lapisan persoalan yang jauh lebih dalam