Pixel Code jatimnow.com

Orang Tua Pelaku Kembalikan Uang Ponpes di Malang yang Dicuri

Editor : Sandhi Nurhartanto   Reporter : Avirista Midaada
Pelaku pencurian uang di Ponpes Al Islahiyah Singosari yang tertangkap
Pelaku pencurian uang di Ponpes Al Islahiyah Singosari yang tertangkap

jatimnow.com - Pihak orang tua pelaku pencurian di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Islahiyah Singosari akhirnya menyerahkan sisa uang yang telah dicuri Siska Zumrotul Fauziah.

Cucu pendiri Ponpes Al Islahiyah Ahsani F Rahman saat dihubungi jatimnow.com membenarkan kabar pengembalian uang yang telah dilakukan oleh keluarga pelaku.

"Sudah dikembalikan kemarin sekitar pukul 11.00 Wib. Pihak keluarga beserta kuasa hukumnya datang ke pondok dan mengembalikan sejumlah uang yang dicuri pelaku," ujar Ahsani, Jumat (22/2/2019).

Baca juga: 

Ia menyebut uang yang dikembalikan sejumlah Rp 67.040.000, terdiri dari Rp 2 juta yang dibelanjakan pelaku, Rp 7 juta yang ditransferkan ke rekening korban, dan sisanya Rp 58 juta yang sebelumnya masih misterius.

Saat ditanya langkah ke depan terkait proses hukum yang berlangsung, pihaknya masih perlu membicarakan kembali dengan pengurus yayasan secara internal. Namun secara pribadi pihaknya sudah memaafkan tindakan yang dilakukan Siska tersebut.

Baca juga:
Pencurian Baut Jalur Rel Kereta Api di Blitar Digagalkan Warga

"Kami sudah melakukan rapat intern yayasan ponpes, ada beberapa pendapat. Satu sisi ada yang menyuruh untuk memaafkan dan tidak melanjutkan laporan, satu sisi lainnya memberi saran agar kasus hukum tetap dilanjutkan. Hingga kini belum ada keputusan pasti," ujarnya.

Gus Sani panggilan akrabnya, menambahkan hingga kini pihak Ponpes belum ada upaya khusus untuk mencabut berkas laporan.

"Hingga saat ini laporan ke polisi belum kami cabut," tegasnya.

Baca juga:
Terpergok Kamera CCTV, Pelaku Pencuri Kotak Amal di Tulungagung Ditangkap

 

Saat Harapan Berubah Menjadi Tekanan
Catatan atas Kasus Viral “Pramugari” Khairun Nisa

Saat Harapan Berubah Menjadi Tekanan

Kisah viral tentang seorang perempuan muda yang berpura-pura menjadi pramugari Batik Air justru membuka lapisan persoalan yang jauh lebih dalam