jatimnow.com - Api biru mengawali perjalanan biji belinjo menjadi emping. Setelah disangrai menggunakan pasir yang dipanaskan dengan LPG 3 kilogram, biji-biji itu ditumbuk hingga pipih oleh tangan-tangan terampil. Berikutnya, sinar matahari berperan mengeringkan kepingan emping sebelum dikemas dan dipasarkan. Di Kampung Emping Belinjo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, ketiga sumber energi tersebut berpadu menjaga roda produksi yang telah berjalan sejak 1987.
Suara pukulan lumpang bersahutan dari rumah-rumah warga di balik pertokoan Jalan Letjen Sutoyo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Di salah satu halaman yang lebih lapang di antara jalan-jalan sempit kampung itu, kepingan emping belinjo terhampar di bawah terik matahari. Pada Kamis, 8 Oktober 2026, suhu udara mencapai 34 derajat Celsius.
Baca juga: Pertamina Jamin Mutu BBM Balap MotoGP Mandalika 2026
Pemandangan itu menjadi bagian dari keseharian warga di kampung tersebut. Produksi camilan renyah ini tidak terpusat di satu tempat, melainkan tersebar di rumah-rumah warga. Sedikitnya enam pengepul terhubung dengan puluhan penumbuk biji belinjo yang mengerjakan pesanan dari rumah masing-masing.
Bagi warga yang menekuninya, membuat emping bukan sekadar mengolah biji belinjo, melainkan juga cara mendapatkan penghasilan tanpa harus meninggalkan rumah.
Ida Kristiani (49), salah satunya. Selama 35 tahun, ia menekuni pekerjaan membuat emping untuk usaha keluarga almarhum Mansyur dan Siti Munawaroh. Kini, usaha yang memasuki generasi kedua di kampung tersebut diteruskan oleh putra mereka, Mukti Akbar (31).
Di rumahnya di kawasan Koplakan, Kecamatan Pare, sedikit di luar Kampung Emping Belinjo, Ida mengerjakan hampir seluruh tahapan produksi secara mandiri. Ia menyiapkan biji belinjo, menyangrainya, menumbuknya hingga pipih, lalu menjemur hasilnya. Pekerjaan itu berjalan berdampingan dengan aktivitas sehari-harinya sebagai istri dan ibu dari dua anak.
“Ini tadi baru selesai masak, bersih-bersih. Dulu anak pas masih sekolah, ya bisa urus anak juga. Sekarang anak yang paling besar sudah bekerja, yang kecil baru lulus SMA,” tutur Ida mengawali ceritanya hari itu.
Bagi Ida dan para pekerja lainnya, membuat emping telah menjadi bagian dari kehidupan yang terus beradaptasi dengan perubahan zaman. Salah satunya terlihat dari sumber energi yang digunakan. Minyak tanah yang dahulu menjadi sumber panas utama kini telah digantikan oleh api biru dari LPG 3 kilogram.
Ida masih mengingat betapa sulitnya bekerja pada era minyak tanah. Selain biaya yang lebih besar, minyak tanah kerap langka. Belum lagi persoalan sumbu kompor yang sering merepotkan.
“Dulu pakai minyak tanah, 30 menit pasirnya ini baru panas. Sekarang 10 menit sudah siap digunakan, panasnya stabil. Lupa persisnya kapan, tapi awal-awal ya sempat takut juga pakai LPG 3 kilogram ini. Ternyata sangat membantu, lebih efisien,” terang Ida.
Panas yang lebih cepat dan stabil memudahkan pekerjaan Ida, termasuk menyangrai biji belinjo sebelum cangkangnya dilepas dan bijinya ditumbuk.
Perubahan sumber panas memang membantu pekerjaan Ida. Namun, setelah biji belinjo selesai disangrai, pekerjaan beralih ke sesuatu yang tidak bisa begitu saja digantikan oleh kompor, yakni keterampilan tangan.
Tujuh hingga sembilan biji yang telah disiapkan diletakkan di atas landasan, lalu ditumbuk hingga pipih. Gerakannya terlihat sederhana, tetapi menghasilkan kepingan emping yang utuh membutuhkan ketepatan, kecepatan, dan pengalaman bertahun-tahun. Pukulan yang kurang tepat dapat mengenai jari, sedangkan tenaga yang tidak sesuai bisa membuat hasil tumbukan berbeda dari yang diharapkan.
“Dulu awal ya sering mengenai jari-jari ini,” kelakar Ida, mengenang pengalamannya saat pertama kali menekuni pekerjaan tersebut ketika masih duduk di bangku SMA. Pengalaman itu menjadi bagian dari proses belajar yang ia lalui hingga akhirnya terampil mengerjakan setiap tahap produksi.
Setelah 35 tahun, peralatan yang digunakan Ida pun masih sama seperti saat pertama kali bekerja. Di tengah perubahan sumber energi, keterampilan yang diperoleh melalui pengalaman tetap menjadi bagian penting dalam menghasilkan emping.
Pola kerja seperti ini memungkinkan sejumlah perempuan yang telah berkeluarga tetap memperoleh penghasilan sambil mengurus rumah tangga. Meski begitu, sistem kerja yang diterapkan para pengepul tidak semuanya sama.
Di Kampung Emping Belinjo, ada pekerja yang berstatus karyawan dan ada pula yang menjadi mitra. Ida memilih menjadi mitra. Ia mengerjakan proses produksi secara mandiri, mulai dari membeli bahan baku hingga menyiapkan emping untuk disetorkan kepada pengepul. Kebutuhan satu tabung LPG 3 kilogram per minggu juga menjadi bagian dari modal yang harus ia keluarkan.
Dalam sistem tersebut, hasil produksi Ida dibeli pengepul dengan harga Rp65.000 per 100 biji. Kenaikan harga bahan baku menjadi salah satu pertimbangan dalam penyesuaian harga pembelian. Meski harus mengeluarkan modal sendiri, Ida memiliki kepastian bahwa emping yang dihasilkan akan diserap pengepul.
“Sehari ini bisa menghasilkan 200–250 biji. Kadang ada yang bantu, itu bisa sampai 400 biji. Secara bisnis ini memang naik turun, tapi enggak pernah ada matinya,” jelas Ida.
Saudara-saudara Ida juga memilih menekuni usaha rumahan ini. Penghasilan dari membuat emping membantu mereka memenuhi kebutuhan keluarga. Kedua anak Ida pun kini telah menyelesaikan pendidikan.
Perjalanan emping berlanjut ke tahap pengeringan. Setelah dibentuk dengan tangan, kepingan tipis itu harus dikeringkan sebelum dikumpulkan dan diproses lebih lanjut. Pada tahap ini, para pembuat emping mengandalkan sumber energi berbeda, yakni sinar matahari.
Baca juga: Ratusan Warga Lamongan Rela Antre Seharian Demi Dapat Bantuan Modal Usaha
Matahari menjadi bagian yang tak kalah penting dalam proses tersebut. Panasnya membantu mengurangi kadar air pada emping, sementara cuaca cerah memungkinkan pengeringan berlangsung lebih optimal. Pada musim kemarau, produksi bisa meningkat karena para pekerja dapat memanfaatkan sinar matahari dengan lebih leluasa.
Namun, ketergantungan pada cuaca juga menghadirkan tantangan tersendiri. Berbeda dengan panas kompor yang bisa digunakan sesuai kebutuhan, sinar matahari tidak sepenuhnya berada dalam kendali para pembuat emping.
“Kalau musim hujan, kita pakai oven. Jadi, balik lagi menggunakan kompor dan LPG 3 kilogram. Biasanya itu ongkos produksi meningkat, tapi masih terjangkau dibandingkan dulu menggunakan minyak tanah,” tegasnya.
Di rumah produksi milik Maimunah (66), Sunaryo (53) juga memanfaatkan panas matahari untuk mengeringkan emping. Ia telah bekerja di tempat tersebut sejak 2020. Sebagian emping yang dijemurnya merupakan produk dengan tambahan rasa, termasuk pedas manis.
Setelah melalui proses penyangraian dan penumbukan, emping yang telah kering dikumpulkan sebelum dikemas. Kudapan yang akrab di momen Lebaran Idulfitri ini kemudian disiapkan dalam kemasan plastik berisi 50 atau 100 biji untuk diteruskan kepada pengepul dan dipasarkan.
Dari tahap awal hingga pengemasan, setiap proses saling bergantung. LPG menyediakan panas untuk menyangrai, tenaga manusia membentuk kepingan, sedangkan matahari membantu menyelesaikan proses pengeringan. Ketiganya bekerja pada tahapan berbeda, tetapi bertemu dalam satu rangkaian produksi.
Di balik proses tersebut, keberlangsungan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) ini juga ditentukan oleh kemampuan pelakunya mengikuti perubahan kebutuhan pasar. Salah satu contohnya terlihat pada usaha Maimunah, adik almarhum Mansyur, yang turut meneruskan usaha emping keluarga warisan sang ayah, Kasnan.
Jika proses dasar pembuatan emping masih mengandalkan keterampilan yang diwariskan, pengembangan rasa menjadi salah satu cara untuk memperluas pasar. Maimunah mulai membuat emping dengan berbagai varian rasa, tidak lagi hanya menjual produk original yang lebih dahulu dikenal konsumen.
“Dulu, awalnya pada 1987 bapak yang mulai. Produknya masih original, hanya disetor ke Surabaya. Saya menambahkan varian rasa pada 1994, sehingga penjualannya bisa ke mana-mana, seperti Malang, Jakarta, dan Banjarmasin,” terang Maimunah.
Emping original berukuran kecil, yang biasanya juga menjadi pelengkap gado-gado itu, dijual seharga Rp50.000 per setengah kilogram. Sementara itu, varian udang manis dan udang pedas manis dengan ukuran yang sama dibanderol Rp60.000. Untuk ukuran besar, Maimunah menyediakan varian udang manis dan udang pedas manis seharga Rp55.000 per bungkus berisi 50 biji, serta varian bawang manis seharga Rp50.000 per bungkus dengan isi yang sama.
Baca juga: SIER Intervensi UMKM Lokal Perluas Pasar melalui Jatim Fest 2026
Penambahan rasa membuat emping memiliki pilihan produk yang lebih beragam. Upaya tersebut memperlihatkan bahwa menjaga usaha bukan berarti harus mempertahankan segala sesuatu tanpa perubahan. Di tengah proses produksi yang masih mengandalkan cara-cara lama, inovasi tetap dibutuhkan agar produk dapat menjangkau konsumen yang lebih luas.
“Dulu saya juga mengalami zaman minyak tanah, sulit. Sekarang masih ada, tapi ya lebih mahal. Tadi yang penjual LPG keliling itu, dia juga punya minyak tanah, tapi ya mahal. Kayak sekarang ini bukan musim panen belinjo, bahan baku udah mahal, kalau ongkos produksinya juga mahal, untungnya tipis,” ujar Maimunah. Saat ini biji belinjo tembus Rp38.000 per kilogramnya, dibeli dari petani di Jawa Tengah.
Maimunah memiliki sekitar 30 karyawan. Sebagian di antaranya bekerja di rumah produksinya, seperti Novi, sedangkan sebagian besar lainnya merupakan penumbuk yang bekerja dari rumah masing-masing. Selain ongkos yang lebih murah, percepatan produksi juga mampu memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat dari berbagai daerah.
“Dulu kita jadi satu semua disini. Masing-masing menghadap wajan sangrai, ya bau gitu kan minyak tanah, kadang mata perih tapi tetap harus numbuk [ketawa]. Kalau sekarang sudah pada menikah juga, jadi bekerjanya dari rumah masing-masing. Sebagian juga ada yang baru-baru,” tandasnya.
Usaha ini juga menunjukkan bagaimana keterampilan membuat emping terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Setelah dirintis Kasnan dan diteruskan anak-anaknya, usaha tersebut kini turut dijalankan Mukti Akbar sebagai generasi ketiga. Selain Mukti, Rizal (33) juga terlibat aktif dalam usaha milik ibunya, Maimunah.
Perjalanan usaha di Kampung Emping Belinjo memperlihatkan bahwa keberlanjutan produksi tidak hanya bertumpu pada keterampilan yang diwariskan dan kemampuan mengikuti selera pasar, tetapi juga pada ketersediaan energi untuk menunjang kegiatan sehari-hari.
Bagi para pembuat emping, LPG menjadi bagian penting dari proses produksi, terutama untuk menggantikan minyak tanah yang dahulu digunakan. Di tengah kebutuhan tersebut, dukungan terhadap UMKM juga berkaitan dengan upaya memastikan energi tersedia dan dapat diakses sesuai ketentuan.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menyatakan bahwa Pertamina berkomitmen mendukung keberlangsungan UMKM melalui penyediaan energi yang aman dan tersedia, termasuk memastikan akses terhadap LPG subsidi bagi pelaku usaha yang memenuhi kriteria penerima.
“Yang pasti, Pertamina berkomitmen mendukung keberlangsungan UMKM melalui penyediaan energi yang aman, tersedia, dan sesuai peruntukan, termasuk memastikan akses terhadap LPG subsidi bagi UMKM yang memenuhi kriteria penerima,” kata Ahad.
Pertamina juga memastikan penyaluran LPG 3 kilogram dilakukan melalui agen dan pangkalan resmi. Dengan demikian, masyarakat dan UMKM yang memenuhi ketentuan dapat memperoleh LPG subsidi sesuai peruntukannya dengan harga yang telah ditetapkan pemerintah.