jatimnow.com - Pengasuh Pondok Pesantren Wali Salatiga, KH Anis Maftuhin atau yang akrab disapa Gus Anis, melontarkan kritik tajam nan menggelitik terhadap pidato Rais Aam PBNU, KH Miftahul Akhyar dalam pembukaan Muktamar NU ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Kamis (27/8/2026).
Gus Anis menilai penggunaan bahasa Arab dalam pidato Rais Aam bukan persoalan, karena tradisi penggunaan bahasa Arab dalam lingkungan NU merupakan hal yang biasa. Namun, ia mengaku kesulitan memahami isi pidato tersebut karena dinilai terlalu panjang dan beberapa kali terjadi kekeliruan dalam penyampaian.
“Saya juga bingung menyimak pidato Rais Aam kita ini. Saya kok kemudian menjadi ragu, ini teksnya dibuat AI atau disusun sendiri atau dari mana,” kata Gus Anis dalam acara Mimbar Muktamar NU yang digelar Suluh Nahdliyin bekerja sama dengan Gerakan Nahdliyin Bersatu dan Padasuka TV di Ponpes Al Maliki 2 Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.
Baca juga: Kritik Kinerja PBNU, Gus Syaifuddin: Jangan Sampai Besar Namanya, Tapi Stagnan
Menurut Gus Anis, terdapat sejumlah bagian dalam pidato yang disampaikan secara berulang. Ia menduga kondisi tersebut menunjukkan kelelahan secara batin dari sang Rais Aam. “Beliau kepleset tapi kok berkali-kali. Nampaknya beliau dalam lelah batin,” ujarnya.
Gus Anis juga mengungkapkan bahwa dirinya menerima sejumlah pesan WhatsApp dari warga NU yang turut menyoroti panjangnya pidato tersebut.
“Saya juga dapat WA banyak ini, ‘dowo banget sambutan Pak Yai niki’. Artinya, show of force ini sudah basi. Hari ini konkretnya adalah bagaimana muktamar ini dilaksanakan dengan gembira,” katanya.
Baca juga: Soroti Karantina Peserta Muktamar NU di Sukolilo, Panitia Didesak Ungkap Dalangnya
Ia menilai substansi pidato Rais Aam lebih banyak berisi pembelaan terhadap kondisi NU saat ini. Menurutnya, hal tersebut juga terlihat sejak bagian pembukaan pidato, ketika sejumlah nama tokoh disebut, termasuk tokoh yang tidak hadir dalam acara.
“Intinya semua pidato beliau itu isinya pembelaan-pembelaan dengan kondisi saat ini. Kita amati dari pembukaan pidato tadi juga kelihatan sekali, nama-nama tokoh disebut semua, bahkan yang tidak hadir,” tutur Gus Anis.
Gus Anis berharap pidato dalam forum sebesar Muktamar NU disampaikan secara lebih ringkas, padat, dan sarat makna. Ia menilai penggunaan abahasa Arab Fusha justru akan lebih efektif apabila disampaikan dengan struktur yang sederhana namun tetap memiliki kedalaman pesan.
Baca juga: GP Ansor Jatim Siagakan 20.000 Banser Jaga Muktamar ke-35 NU
“Saya kira ini kurang jamik dan kurang manik. Kalau mau pidato abahasa Arab bil Fusha, saya kira cukup yang padat saja tapi penuh makna. Saya kira santri-santri NU sudah paham lah yang begini,” katanya.
Menurut Gus Anis, momentum Muktamar NU ke-35 semestinya tidak hanya menjadi ruang menunjukkan kekuatan atau mempertahankan posisi, tetapi juga menjadi forum yang menghadirkan suasana gembira dan membicarakan langkah konkret bagi masa depan organisasi.