jatimnow.com – Bagi pencinta kuliner tradisional, Kare Kambing dan Sapi Bu Hj Sani menjadi salah satu destinasi wajib ketika berkunjung ke Surabaya. Rumah makan legendaris ini berdiri sejak 1960 dan hingga kini tetap menjaga cita rasa yang diwariskan turun-temurun.
Lokasinya strategis, tak jauh dari Stasiun Pasar Turi. Akses yang mudah membuat rumah makan ini selalu ramai, baik oleh warga lokal maupun pelancong dari luar kota yang penasaran dengan kelezatan kare khas Hj Sani.
Sejak awal berdiri, resep keluarga yang digunakan dijaga ketat. Rahasia bumbu yang diracik sejak generasi pertama tetap dipertahankan, sehingga rasa kare tidak pernah berubah meski zaman berganti.
Kini, usaha kuliner ini telah memasuki generasi ketiga. Anak cucu Hj Sani meneruskan tradisi dengan penuh tanggung jawab, memastikan setiap mangkuk kare yang tersaji tetap menghadirkan rasa otentik.
Cita rasa kare kambing dan sapi di sini memang berbeda. Kuahnya ringan, tidak terlalu pekat, namun kaya rempah. Perpaduan asin, gurih, dan aroma kaldu membuat siapa pun yang mencicipi ingin kembali.
Dalam penyajiannya, pelanggan bisa memilih beragam kondimen. Ada daging kambing, sapi, hingga jeroan yang disajikan sesuai selera. Kombinasi ini menambah sensasi makan yang lebih kaya. Suwardi, salah seorang pelanggan, menyebut kuah kare Hj Sani memiliki ciri khas tersendiri.
“Kuahnya lebih ringan, tapi bumbunya tetap terasa. Itu yang membuat kare di sini berbeda,” ujarnya, Rabu (27/8/2026).
Aneka jeroan hingga daging menjadi kondimen pelengkap (foto: Ifan/jatimnow.com)
Sementara Roni, pelanggan lainnya, menilai rasa gurih dan asin yang medok membuat kare Hj Sani cocok dengan lidah masyarakat Jawa Timur.
"Rasanya itu pas sekali, sangat Jawa Timuran,” katanya
Keistimewaan rasa ini tidak lepas dari cara memasak yang masih tradisional. Proses perebusan daging dilakukan perlahan, sehingga kaldu keluar sempurna dan berpadu dengan bumbu rempah.
Bumbu kare sendiri terdiri dari campuran bawang merah, bawang putih, ketumbar, jintan, dan rempah lain yang diolah dengan teknik khusus. Setiap racikan dilakukan manual, tanpa bantuan mesin modern.
Baca juga:
3 Kereta dari Pasar Turi Surabaya Gagal Berangkat, Imbas Banjir Semarang
Tak heran jika rumah makan ini menjadi favorit banyak tokoh, termasuk Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi. Kehadirannya di sini semakin menambah reputasi kare Hj Sani sebagai kuliner kebanggaan kota.
Meski sederhana, suasana rumah makan ini selalu hangat. Meja kayu panjang, aroma rempah yang menyeruak, dan senyum ramah para pelayan membuat pengunjung merasa seperti makan di rumah sendiri.
Dari segi harga, menu kare Hj Sani tetap terjangkau. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa rumah makan ini mampu bertahan lebih dari setengah abad di tengah persaingan kuliner modern.
Perjalanan panjang usaha ini dimulai dari sebuah gerobak sederhana. Hj Sani meracik kare di pinggir jalan, melayani pelanggan dengan penuh ketekunan. Dari situlah reputasi mulai terbentuk.
Seiring waktu, usaha kecil itu berkembang. Dari gerobak, kemudian membuka lapak permanen, hingga kini menjadi rumah makan yang dikenal luas. Perjalanan ini mencerminkan ketekunan dan konsistensi keluarga.
Generasi penerus pun tidak hanya menjaga rasa, tetapi juga memperhatikan pelayanan. Mereka sadar, pelanggan datang bukan hanya untuk makan, tetapi juga merasakan pengalaman kuliner yang hangat.
Baca juga:
Jadwal Kereta di Stasiun Pasar Turi Surabaya Kembali Normal
Kare Hj Sani menjadi bukti bahwa resep keluarga bisa bertahan melintasi zaman. Di tengah gempuran makanan cepat saji, kuliner tradisional ini tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat.
Lebih dari sekadar makanan, kare Hj Sani adalah cerita tentang tradisi, keluarga, dan ketekunan. Setiap suapan membawa nostalgia, mengingatkan pada cita rasa masa lalu yang masih hidup hingga kini.
Bagi wisatawan, mencicipi kare Hj Sani berarti merasakan bagian dari sejarah kuliner Surabaya. Sebuah pengalaman yang tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga memperkaya perjalanan
Dan bagi keluarga Hj Sani, menjaga resep ini adalah bentuk penghormatan kepada leluhur. Amanah yang dijalankan dengan sepenuh hati, agar cita rasa kare tetap lestari untuk generasi mendatang.
Reporter: Nur Ifansyah