jatimnow.com – Sisa sayuran dan kulit buah yang biasanya berujung di tempat sampah rupanya menyimpan potensi besar jika diolah dengan tepat. Memanfaatkan peluang tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Belajar Bersama Masyarakat (KKN-BBK) 8 Universitas Airlangga (Unair) meluncurkan program Gerakan Masyarakat Mengelola Limbah Dapur menjadi Eco Enzyme (GEMA-ENZYME) di Desa Pucakwangi, Kabupaten Lamongan.
Program ini menyasar ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) setempat dengan tujuan mengedukasi sekaligus memberdayakan masyarakat agar mampu mengolah limbah organik rumah tangga menjadi produk multifungsi yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomi.
Ketua Tim KKN-BBK 8 Unair, Ardiansyah Maulana, menjelaskan bahwa inisiatif GEMA-ENZYME lahir dari hasil pengamatan tim terhadap tingginya volume limbah organik sisa rumah tangga di desa tersebut yang belum termanfaatkan secara optimal.
Baca juga: Rektor Lepas 650 Mahasiswa KKN Unisda 2026, Bawa Misi Pemberdayaan Masyarakat
"Sebagian besar warga di Desa Pucakwangi lebih sering memasak sendiri, sehingga limbah organik seperti sisa sayuran dan buah-buahan cukup banyak. Selama ini limbah tersebut umumnya hanya dibuang begitu saja tanpa diolah," ungkap Ardiansyah.
Melalui program ini, para mahasiswa mengajarkan teknik fermentasi sederhana yang memadukan limbah organik, gula, dan air. Hasil dari proses fermentasi tersebut adalah eco enzyme, yakni cairan serbaguna yang memiliki segudang manfaat untuk kebutuhan rumah tangga.
Selain efektif dimanfaatkan sebagai Pupuk Organik Cair (POC), eco enzyme juga dapat digunakan sebagai cairan pembersih lantai, pembersih kaca jendela, sabun pencuci peralatan dapur, dan cairan penghilang bau tak sedap pada lingkungan, seperti di selokan air.
Baca juga: KKN Unisla Lamongan Diharap Jadi Pemantik Peningkatan Kualitas SDM
Menurut Ardiansyah, pengetahuan tentang ragam fungsi eco enzyme ini belum banyak diketahui oleh masyarakat luas. Inovasi ini dinilai memiliki nilai guna yang jauh lebih praktis dan luas dibandingkan sekadar menimbun sampah organik menjadi pupuk kompos.
Pemilihan ibu-ibu PKK sebagai sasaran utama program bukanlah tanpa alasan. Kelompok ini dinilai memiliki peran paling strategis dan lekat dengan aktivitas memasak serta pengelolaan urusan rumah tangga sehari-hari.
Antusiasme peserta selama pelatihan berlangsung terpantau sangat tinggi. Sebagian besar peserta baru menyadari bahwa sisa dapur mereka bisa disulap menjadi produk pembersih rumah tangga yang bisa menghemat pengeluaran belanja.
Baca juga: 855 Mahasiswa Unisda Jalani KKN, Dilepas ke Madura hingga Thailand
Lebih dari sekadar menjaga kelestarian lingkungan, Ardiansyah berharap program ini dapat membuka peluang kemandirian ekonomi bagi warga Desa Pucakwangi jika diproduksi secara berkelanjutan.
"Harapannya, ibu-ibu PKK bisa terus memproduksi eco enzyme setelah KKN ini selesai. Kalau dikembangkan dan dikemas dengan baik, produk ini tidak hanya dimanfaatkan sendiri, tetapi juga bisa dijual. Ini bisa menjadi tambahan pendapatan sekaligus menjadi produk unggulan atau keunikan dari Desa Pucakwangi," pungkasnya.