UNAIR Kenalkan Museum Digital dan Etika Pemanfaatan AI

Selasa, 11 Agu 2026 11:55 WIB
Reporter :
Ali Masduki
Museum Digital UNAIR menjadi salah satu upaya kampus menjaga rekam jejak perjalanan institusi sekaligus membuatnya lebih mudah diakses masyarakat. (Foto: Humas Unair for jatimnow.com)

jatimnow.com - Universitas Airlangga (UNAIR) mendorong pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk memperkuat pelestarian sejarah dan arsip digital. Namun, penggunaan teknologi tersebut tetap harus menempatkan manusia sebagai pengendali utama.

Pesan itu mengemuka dalam Kuliah Umum Museum Digital bertema AI dan Warisan Budaya di Era Digital yang digelar di Majapahit Hall, Gedung ASEEC Tower, Kampus Dharmawangsa-B UNAIR, Sabtu (8/8/2026).

Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak hanya diperkenalkan pada Museum Digital UNAIR, tetapi juga diajak mempraktikkan penggunaan AI untuk restorasi foto lama, digitalisasi arsip, hingga pembuatan konten sejarah.

Baca juga: Awas Sengketa! Pakar Hukum Bongkar Akar Masalah Sertifikat Tanah Ganda dan Cara Mencegahnya

Kepala Bidang Kearsipan Pusat Administrasi Sekretariat UNAIR, Kiswari SSos, mengatakan Museum Digital UNAIR menjadi salah satu upaya kampus menjaga rekam jejak perjalanan institusi sekaligus membuatnya lebih mudah diakses masyarakat.

Museum tersebut dapat dikunjungi secara gratis dan terbuka untuk umum. Meski ruang fisiknya terbatas, koleksi yang disajikan merekam perjalanan UNAIR sejak berdiri hingga perkembangan kampus saat ini.

“Museumnya kecil karena memang tempatnya kecil, tetapi museum kami tidak berbayar dan terbuka untuk umum. Jadi, siapapun boleh melihatnya,” ujar Kiswari.

Menurut Kiswari, pelestarian arsip menjadi penting karena sejarah dapat kehilangan makna jika tidak disertai dokumentasi yang memadai. UNAIR berencana memperbarui cerita dan informasi di museum setiap dua tahun.

“Cerita-cerita tentang UNAIR ini kalau tidak kita lestarikan akan jadi cerita belaka saja nantinya,” katanya.

Museum Digital UNAIR juga telah menarik perhatian mahasiswa dari sejumlah negara, termasuk Malaysia dan Australia.

AI Bukan Pengganti Manusia

Pembicara kuliah umum, Yutika Amelia Effendi SKom MKom PhD, menyoroti perkembangan AI yang semakin luas. Teknologi tersebut kini tidak hanya berperan sebagai asisten, tetapi berkembang menjadi agen yang dapat berkolaborasi dengan manusia.

Meski demikian, peningkatan kemampuan komputasi AI tidak menghilangkan peran manusia. Pengambilan keputusan, kreativitas, pertimbangan etis, dan tanggung jawab tetap membutuhkan kontrol manusia.

“AI itu bisa digunakan di berbagai domain. Makanya sekarang apa-apa multidisiplin dan kolaborasi, karena memang tidak bisa hanya bekerja sendiri,” ungkap Yutika.

Dalam pendidikan, AI menurutnya dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu belajar. Dosen dan mahasiswa dapat menggunakannya sebagai tutor untuk memancing diskusi, mengeksplorasi gagasan, serta mendorong kemampuan berpikir kritis.

Namun, setiap informasi yang dihasilkan AI tetap perlu diperiksa. Yutika mengingatkan bahwa AI dapat memberikan informasi yang sudah tidak relevan, bias, bahkan mencantumkan referensi yang tidak benar.

Karena itu, ia memperkenalkan metode AVRCG sebagai panduan penggunaan AI secara bertanggung jawab. Metode tersebut terdiri dari Ask, Verify, Refine, Create, dan Disclose.

Tahapannya dimulai dengan merumuskan pertanyaan secara jelas, memverifikasi informasi secara mandiri, memperbaiki kueri, menghasilkan karya, lalu mengungkapkan penggunaan AI secara transparan.

“Pengguna harus mendefinisikan masalah dengan presisi, memeriksa fakta secara mandiri, mengasah kueri, dan senantiasa transparan terhadap penggunaan AI di akhir hasil karya,” jelasnya.

Yutika menegaskan, posisi manusia tidak boleh terbalik dalam kolaborasi dengan AI.

“Tidak boleh kebalik, human-nya yang co-pilot, AI-nya yang pilot. Itu tidak boleh,” tegasnya.

Restorasi Foto dengan AI

Baca juga: Sentil Gaya Bicara Pejabat, Pakar: Salah Diksi Bisa Picu Polemik dan Turunkan Kepercayaan

\

Praktisi sekaligus filmmaker AI, Deni Adi Santoso, kemudian menunjukkan penerapan AI dalam pelestarian arsip visual. Peserta diajak memperbaiki foto lama yang mengalami kerusakan, seperti kusam, berjamur, sobek, atau memiliki resolusi rendah.

Dengan bantuan ChatGPT, peserta mempraktikkan proses restorasi foto sebelum mengembangkannya menjadi berbagai bentuk konten sejarah.

Deni menekankan pentingnya membedakan restorasi dengan manipulasi. Restorasi dapat dilakukan dengan membersihkan noda, meningkatkan resolusi, memperbaiki warna, dan memperjelas detail selama tidak mengubah identitas maupun fakta dalam objek asli.

Sebaliknya, perubahan struktur wajah atau penambahan objek yang tidak terdapat dalam foto dapat masuk kategori manipulasi. Tindakan semacam itu berisiko mengurangi bahkan menghilangkan nilai historis arsip.

“Dulu sejarah tersimpan dalam gedung, tetapi zaman sekarang diri kita bisa menyimpan sejarah itu,” ujar Deni.

Menurut dia, AI semestinya digunakan untuk membantu masyarakat merawat dokumentasi sejarah, bukan menciptakan fakta baru yang menyesatkan.

Foto Lama Diubah Menjadi Konten Sejarah

Setelah mempelajari teknik restorasi, peserta melanjutkan praktik dengan mengembangkan foto lama menjadi berbagai produk konten. Mereka membuat artikel budaya, keterangan foto dengan gaya museum, hingga video pendek menggunakan Google Flow dengan teknologi Veo 3.

Deni juga memperkenalkan teknik menyusun prompt agar foto lama dapat dikembangkan menjadi video dengan tetap mempertahankan konteks zaman yang tergambar dalam arsip.

Baca juga: Gus Fawait Ajak IKA Unair Cabang Jember Ambil Peran Aktif Bangun Daerah

Selain pembuatan konten, peserta mendapatkan materi mengenai pengarsipan keluarga secara digital. Deni mencontohkan penggunaan format penamaan file yang mencantumkan tahun, keluarga, dan aktivitas dalam foto, seperti [Tahun_Keluarga_Bapak Karim Memcuci Motor].

Arsip digital tersebut dapat disimpan melalui layanan penyimpanan awan seperti Google Drive maupun perangkat penyimpanan eksternal. Penamaan file yang sistematis membuat dokumentasi keluarga lebih mudah ditemukan dan dikelola ketika dibutuhkan.

Deni sengaja memperbanyak sesi praktik agar peserta dapat langsung menerapkan materi yang diperoleh.

“Saya tidak mau banyak teori di sini, saya mau mengajak praktik saja,” ujarnya.

Pernah Ditolak UNAIR, Kini Kembali sebagai Narasumber

Di balik materi tentang AI dan arsip digital, kehadiran Deni di UNAIR juga memiliki cerita personal.

Ia mengaku pernah mengalami penolakan ketika mencoba masuk UNAIR pada 2013. Tiga belas tahun kemudian, ia kembali ke kampus tersebut, bukan sebagai calon mahasiswa, melainkan sebagai narasumber dalam kuliah umum mengenai AI dan pelestarian sejarah.

“Saya juga punya sejarah dengan UNAIR. Dulu 2013 saya ditolak UNAIR, dan saat ini 2026 saya bisa hadir di UNAIR menjadi narasumber berkat AI,” kata Deni.

Kisah tersebut memperlihatkan bagaimana perkembangan teknologi dapat membuka jalur baru dalam perjalanan seseorang. Bagi UNAIR, kuliah umum Museum Digital sekaligus menjadi ruang untuk mempertemukan teknologi, pendidikan, dan upaya menjaga ingatan sejarah.

Melalui kegiatan tersebut, UNAIR menegaskan bahwa AI tidak berhenti sebagai perangkat untuk mencari dan mengolah informasi. Jika digunakan secara kritis dan bertanggung jawab, teknologi tersebut juga dapat membantu masyarakat merawat arsip, menjaga identitas, serta mewariskan sejarah kepada generasi berikutnya.

Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!
Berita Surabaya

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler