Berani Malu yang Penting Laku

Senin, 23 Mar 2026 10:50 WIB
Reporter :
jatimnow.com
Yuli Zulaikha, Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Dr. Soetomo Surabaya. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)

jatimnow.com - Ini bukan pertamakalinya Aldi Taher bikin ulah nyeleneh. Dulu, Aldi pernah memasang komen berbau agama di semua postingan teman artisnya, dan selalu mengirimkan hastag juga ke teman-teman artis.

Nyebelin banget, memang. Teman-teman artisnya pada nggak suka, tapi dia tetap saja melakukannya. Hasilnya, nama Aldi Taher yang kala itu mulai dilupakan orang, mendadak jadi populer lagi, meskipun dengan jalan yang ‘nyebelin’.

Kali ini, strategi yang sama diulanginya lagi ketika dia berusaha mempromosikan dagangannya, Aldis Burger. “Aldis Burger Cempaka Putih rotinya lembut dagingnya juicy lucy mahalini rizky febian bisa pesan online”.

Setidaknya ada 3 artis yang disenggol, dan semuanya punya penggemar masing masing : grup band Juicy Luicy, Mahalini dan Rizky Febian.

Kalimatnya juga bertebaran di X dan thread, nongol tiba-tiba sebagai komen di postingan orang. Nyebelin? Iya. Tapi berhasil mencuri perhatian.

Di era media sosial, kadang yang paling diingat publik bukan produk terbaik, melainkan produk yang paling berhasil merebut perhatian.

Di titik inilah strategi marketing ala Aldi Taher menarik untuk dibahas. Bagi sebagian orang, gayanya terasa nyeleneh, bahkan cenderung memalukan.

Mungkin Aldy sempat merasa malu juga, siapa tahu? Tetapi dari sudut pandang branding digital, justru di situlah letak kekuatannya, Aldi Taher paham bahwa di ekonomi atensi, perhatian adalah pintu pertama menuju penjualan.

Aldi Taher tidak menjual burger semata. Ia menjual persona. Nama, gaya bicara, tingkah laku, hingga aura tidak jaim. menjadi bagian dari paket branding. Dalam logika digital, ini sangat efektif. Audiens media sosial tidak selalu mencari komunikasi yang rapi dan elegan.

Mereka justru tertarik pada sesuatu yang terasa absurd, spontan, lucu, dan mudah dibagikan ulang. Konten yang membuat orang berkata, “Ini apaan sih?” sering kali punya peluang lebih besar untuk viral dibanding promosi yang terlalu formal.

Dari perspektif pemasaran digital, setidaknya ada tiga kekuatan dalam gaya marketing Aldi Taher.


Foto: froyonion.com

Pertama, ia memiliki personal branding yang sangat kuat. Banyak brand kecil gagal dikenal karena tidak punya wajah yang menonjol. Aldi sebaliknya.

Ia memanfaatkan betul namanya yang sudah dikenal publik menjadi mesin promosi utama. Ia tidak membangun jarak antara pemilik usaha dan konsumen.

\

Ia hadir langsung sebagai konten, sebagai narasi, dan sebagai hiburan. Ini membuat brand terasa hidup, bukan sekadar logo atau nama toko.

Kedua, ia paham logika viralitas. Di media sosial, konten yang mudah diingat biasanya punya elemen kejutan, repetisi, dan emosi. Gaya promosi Aldi memadukan ketiganya. Ia membuat orang tertawa, heran, geleng-geleng kepala, sebel, tetapi tetap menikmatinya.

Dalam bahasa branding, ini penting karena awareness lahir lebih dulu sebelum consideration dan conversion. Orang mungkin awalnya datang karena penasaran, tetapi rasa penasaran itulah yang membuka peluang transaksi.

Ketiga, ia berhasil mengubah rasa malu menjadi diferensiasi. Banyak brand takut dianggap norak, takut terlihat terlalu jualan, takut dikomentari negatif. Aldi Taher justru masuk ke ruang itu tanpa banyak beban.

Hasilnya, ia memiliki posisi yang unik. Di tengah lautan promosi kuliner yang seragam, gaya nyeleneh justru membuat brand lebih mudah dikenali. Dalam pasar digital yang padat, berbeda sering kali lebih berharga daripada sempurna.

Meski demikian, strategi seperti ini tetap punya risiko. Viral tidak selalu sama dengan reputasi jangka panjang. Brand yang terlalu bertumpu pada sensasi bisa cepat naik, tetapi juga cepat lelah jika tidak dibarengi kualitas produk dan pengalaman pelanggan yang baik.

Karena itu, pelajaran utama dari Aldi Taher bukan sekadar membikin heboh supaya laku, tetapi bahwa branding digital hari ini menuntut keberanian membaca budaya internet.

Netizen menyukai keaslian, hiburan, keanehan, dan karakter yang kuat. Aldi Taher memanfaatkan itu dengan sangat sadar.

Ia tahu bahwa dalam lanskap digital, yang terlalu rapi kadang justru tenggelam, sedangkan yang cukup berani tampil apa adanya bisa mencuri panggung.

Pada akhirnya, gaya berani malu yang penting laku ala Aldi Taher semakin memperkuat pendapat bahwa konsumen modern tidak hanya membeli barang, tetapi juga cerita, karakter, dan pengalaman sosial yang bisa mereka bicarakan. Aldi Taher menunjukkan bahwa ia sedang memainkan gaya marketingnya dengan caranya sendiri.

Dalam dunia branding digital, yang paling diingat memang bukan yang paling sopan, melainkan yang paling sulit diabaikan.

Penulis: Yuli Zulaikha
Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi
Universitas Dr. Soetomo

Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!
Berita Surabaya

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler