Konflik Iran-AS Memanas, Alumni Lemhannas Ungkap Strategi Ketahanan Nasional

Senin, 02 Mar 2026 02:45 WIB
Reporter :
Ali Masduki
Abdul Aziz, Alumni PPNK LEMHANNAS RI Angkatan 222. (Foto: Dok Pribadi)

jatimnow.com - Eskalasi ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat di Timur Tengah bukan sekadar tontonan berita mancanegara. Bagi Indonesia, riak di kawasan tersebut adalah alarm bagi ketahanan nasional.

Abdul Aziz, Alumni PPNK LEMHANNAS RI Angkatan 222, mengingatkan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mengelola guncangan eksternal tanpa harus mengorbankan stabilitas internal.

Menurutnya, Indonesia perlu memasang "perisai berlapis" untuk menghadapi dampak geopolitik yang kian tak menentu. Strategi ini memadukan nilai spiritual, kepatuhan struktural, hingga kewaspadaan terhadap perang gaya baru.

Baca juga: India dan Indonesia Gotong Royong Menyusuri Badai Geopolitik

1. Spiritualitas Sebagai Benteng Pertama

Dalam kacamata pertahanan, moral bangsa menduduki kasta tertinggi dalam menjaga kedaulatan. Letda Abdul Aziz menilai iman dan takwa kolektif bukan hanya urusan privat, melainkan fondasi kekuatan negara.

"Bangsa yang kokoh spiritualnya akan jauh lebih tahan terhadap infiltrasi dan provokasi asing," tuturnya.

Merujuk pada pemikiran Imam Ibn Katsir dan Syaikh Abdurrahman As-Sa’di, ketakwaan menjadi jalan keluar paling efektif saat sebuah bangsa didera kesulitan global. Singkatnya, ketahanan nasional bermula dari kekuatan mentalitas rakyatnya.

2. Persatuan di Bawah Komando Pimpinan Negara

Stabilitas nasional mustahil tercapai tanpa adanya ketaatan kepada pemimpin tertinggi, dalam hal ini Presiden RI sebagai Ulil Amri. Abdul Aziz menegaskan bahwa kepatuhan pada otoritas sah adalah syarat mutlak menghadapi tekanan asing.

Baca juga: DKJT dan GMNI Surabaya Serukan Kemandirian Bangsa Lewat Kebudayaan

Sesuai dengan penjelasan dalam Syarh Shahih Muslim, ketaatan kepada pemerintah selama tidak dalam kemaksiatan berfungsi untuk mencegah perpecahan.

\

Di tengah panasnya situasi global, kohesi antara rakyat dan pemimpin menjadi modal utama agar Indonesia tidak mudah didikte oleh kepentingan luar.

3. Waspada ‘Hybrid Warfare’ dan Propaganda

Satu hal yang paling krusial adalah kesadaran akan pola perang modern. Abdul Aziz memperingatkan bahwa konflik saat ini sering kali tidak dimulai dengan ledakan peluru, melainkan serangan informasi atau hybrid warfare.

Baca juga: Palestina: Italia di Persimpangan, Antara Suara Rakyat dan Kalkulasi Politik

"Banyak negara besar melemahkan targetnya dari dalam. Mereka menciptakan instabilitas internal lewat hoaks, lalu masuk dengan dalih menyelamatkan rakyat," jelasnya.

Ia membedah pola klasik yang sering berulang dalam konflik geopolitik:

  • Penyebaran hoaks dan narasi adu domba.
  • Munculnya gelombang massa yang melemahkan kepercayaan publik.
  • Negara menjadi rapuh dan kekuatan asing masuk atas nama demokrasi.

Agar tidak terjebak dalam skema tersebut, masyarakat diminta kritis dalam menyerap informasi. Sebagaimana pesan dalam Majmu’ Fatawa, mengikuti berita dusta adalah pintu gerbang kerusakan sebuah kaum.

Indonesia harus berdiri tegak di atas kaki sendiri. Menghadapi bara konflik Iran vs AS, senjata terbaik kita adalah kewaspadaan kolektif untuk menjaga persatuan tetap utuh dan kedaulatan tetap terjaga.

Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!
Berita Surabaya

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler