Psikolog Unair Ungkap Alasan Tarot Populer di Generasi Z

Jumat, 16 Jan 2026 22:48 WIB
Reporter :
Ali Masduki
Kartu tarot dianggap memberikan kejelasan arah hidup dan mengurangi rasa gelisah. (Foto: Ilustrasi/Gemini)

jatimnow.com - Tarot, yang dulunya dianggap sebagai praktik esoteris, kini menjadi perbincangan hangat di kalangan Generasi Z.

Fenomena ini menarik perhatian Psikolog Klinis Universitas Airlangga (Unair), Dian Kartika Amelia Arbi. Ia pun memberikan pandangannya dari sudut pandang psikologi.

Dain bilang, generasi Z, yang seringkali dihadapkan pada tekanan dan tantangan unik, menemukan cara-cara tersendiri untuk mengelola emosi mereka.

Baca juga: Guru Besar Farmasi Unair Teliti Etnomedisin Maluku untuk Ibu Pasca Melahirkan

Salah satunya adalah melalui kartu tarot, yang dianggap memberikan kejelasan arah hidup dan mengurangi rasa gelisah.

Dian menjelaskan bahwa tarot bukanlah hal baru, namun popularitasnya di kalangan Gen Z patut dipertanyakan.

"Dari perspektif psikologi, ini adalah salah satu cara individu atau Gen Z, ketika mereka menghadapi sesuatu yang tidak enak dan merasa tidak berdaya, mereka berusaha mencari penjelasan eksternal. Hal itu diharapkan memberikan rasa tenang," ujarnya.

Pembacaan tarot dapat memunculkan khayalan untuk memprediksi atau mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, sehingga mengurangi kecemasan dan menjadi coping mechanism.

Baca juga: Obesitas Remaja, Salahkah Begadang dan Makan Tengah Malam?

"Misalnya, karena mereka menghadapi sesuatu yang tidak bisa diprediksi, mereka mengalami kecemasan. Tarot menawarkan narasi tentang diri mereka tanpa judgement, yang bisa dianggap menenangkan," imbuhnya.

\

Namun, Dian juga mengingatkan tentang dampak negatif dari penggunaan tarot. "Jika dijadikan pendorong evaluasi yang membuat individu berkembang, tidak masalah. Tapi ada hal-hal yang bisa menjadi warning ketika terlalu mengandalkan pemikiran yang ditawarkan tarot, yang menghambat problem solving," tuturnya.

Pemikiran bahwa apa yang terjadi sudah ditakdirkan dapat menghambat individu untuk berusaha memperbaiki situasi dirinya.

Baca juga: Mengenal Superflu H3N2, Varian Baru Influenza yang Kini Masuk Indonesia

Dalam psikologi, hal ini disebut self-fulfilling prophecy. "Bukan ramalan atau prediksi itu yang nyata terjadi, tapi karena kita sudah meyakini hal itu sebelumnya akan terjadi, sehingga energi kita mengarahkan pada perilaku yang kita prediksi sebelumnya," terangnya.

Untuk menghadapi stres secara mandiri, Dian menyarankan untuk belajar mengelola stres dengan journaling, mengelola waktu, mengonsumsi makanan bergizi, dan berolahraga rutin.

Namun, dalam krisis emosional, mendatangi psikolog atau psikiater adalah langkah terbaik untuk mendapatkan penanganan profesional.

Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!
Berita Surabaya

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler