jatimnow.com-BKSDA Wilayah I Kediri bersama Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Himalaya UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung menggelar pengamatan burung migrasi. Tulungagung menjadi salah satu jalur migrasi berbagai burung dari belahan bumi utara. Kegiatan Tulungagung Bird Walk atau pengamatan burung dilakukan di area sawah Desa Bungur, Kecamatan Karangrejo.
Dalam proses pengamatan, setiap peserta diminta untuk mengamati perilaku dan ciri khas burung melalui binokular atau teropong burung. Dari hasil pengamatan, peserta diminta untuk mencatat perilaku alami, ciri khas dan menggambar ilustrasi burung yang diamati.
Polisi Kehutanan Seksi Konservasi Wilayah I Kediri, BKSDA Jawa Timur, Ahmad David Kurnia Putra mengatakan, kegiatan Tulungagung Bird Walk diinisiai oleh Mapala Himalaya UIN SATU Tulungagung bersama BKSDA Kediri. Pengamatan burung bertujuan untuk memperkenalkan jenis-jenis burung secara dekat.
Baca juga: Program KDMP, Dana Desa di Tulungagung Terpangkas Hingga 70 Persen
Pada kesempatan kali ini, ada tiga jenis burung migrasi yang berhasil diamati. Yakni burung trinil pantai (Actitis Hypoleuscos), trinil semak (Tringa Glareola) dan kicuit kerbau (Motacilla Tschutschensis).
"Kami ingin berbagi asiknya mengamati perilaku burung di alam. Mumpung masih musim migrasi burung, tiga jenis burung ini berasal dari belahan bumi utara, seperti Cina dan Rusia yang saat ini sedang musim dingin," ujarnya, Selasa (13/1/2026).
Baca juga: Mahasiswa UBhi Tulungagung Pentaskan Reog Kendang Dalam Ujian Akhir Semester
Musim migrasi burung terjadi sejak Oktober 2025 hingga Maret 2026. Burung yang melakukan migrasi bertujuan untuk bertahan hidup dengan mencari makanan ke daerah tropis. Selama dua tahun BKSDA melakukan pengamatan burung migrasi di Tulungagung, tercatat ada 7 jenis. Diantaranya, burung trinil (Actitis Hypoleuscos), trinil semak (Triga Glaeola), kicuit kerbau (Motacilla Tschutschensis), cerek kernyut (Pluvialis Fulva), cerek kalung kecil (Charadrius Dubius), terik asia (Glareola Maldivarum) dan burung layang-layang asia (Hirundo Rustica).
"Migrasi burung terjadi sejak Oktober 2025 sampai Maret 2026. Nanti mereka akan kembali setelah musim dingin selesai untuk berkembang biak, burung migrasi terik asia ini kami selalu jumpai setiap tahun dengan jumlah individu yang sangat banyak. Kami pernah menghitung di Tulungagung, satu petak sawah terdapat 5.000 ekor burung terik asia," terangnya.
Baca juga: 232 Penderita Hipermetropi di Tulungagung Terima Bantuan Kacamata
Sementara itu, Ketua Mapala Himalaya UIN SATU Tulungagung, Fazal Marzuki mengaku senang dan tertarik mengikuti kegiatan pengamatan burung migrasi di Tulungagung. Kegiatan ini menjadi pengalaman pertama kali melihat secara dekat perilaku burung migrasi di alam. Fazal berencana akan menjadikan kegiatan pengamatan burung sebagai agenda tahunan Mapala Himalaya UIN SATU Tulungagung, sebagai kegiatan edukasi anggota.
"Banyak teman-teman yang tertarik, karena dapat ilmu baru mengenal burung migrasi secara langsung di alam," pungkasnya.