jatimnow.com - Pagi itu, udara Kota Malang terasa sejuk, Sabtu (24/10/2026). Suasananya kontras dengan Surabaya yang suhunya mencapai 36 derajat Celsius. Dari lorong kecil tepat di seberang Masjid Jami’ Nurul Falah, pengunjung bisa menemukan deretan lapak kuliner di Pasar Rakyat Klojen Nikmat, Jalan Cokroaminoto, Kecamatan Klojen, Kota Malang.
Suasana di luar Pasar Rakyat Klojen Nikmat, pada Sabtu (24/10/2026). Sejumlah pengunjung menikmati akhir pekan di bawah papan merah besar yang menjadi penanda wajah baru pasar ini yang semakin hidup. (Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)
Pasar ini memiliki area yang relatif kecil, tetapi bersih dan nyaman. Kesan pasar tradisional dengan lantai becek dan lingkungan semrawut tidak begitu terlihat di sini. Aroma makanan dari lapak-lapak kuliner, termasuk Lumpur Kentang Panggang Klodjen, mengisi udara di tengah aktivitas jual beli yang berlangsung berdampingan dengan lapak daging.
Lapak daging di Pasar Rakyat Klojen Nikmat yang letaknya berdampingan dengan lapak-lapak kuliner, pada Sabtu (24/10/2026). Tampak bersih dan tidak berbau, membuat pengunjung tetap nyaman menikmati suasana pasar sambil kulineran. (Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)
Pengunjung bisa menyusuri deretan lapak untuk berburu jajanan, mulai dari klepon, pisang goreng, onde-onde tangkil, kue putu, roti gulung abon, cenil, hingga aneka gorengan lainnya. Pengunjung juga bisa duduk santai menikmati nasi pecel legendaris Mbak Sri yang sudah ada sejak 1975.
Di sejumlah sudut, pengunjung terlihat bercengkerama tanpa terburu-buru. Pasar bukan sekadar tempat bertransaksi, tetapi juga ruang untuk menghabiskan waktu bersama.
Suasana Pasar Pasar Rakyat Klojen Nikmat, pada Sabtu (24/10/2026). Sejumlah pengunjung mengantre di lapak Korean Chicken Skewers - Dakkochi. Tak hanya kuliner tradisional, jajanan kekinian juga ada di pasar ini. Antreannya dipadati Gen Z. (Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)
Suasana Pasar Pasar Rakyat Klojen Nikmat, pada Sabtu (24/10/2026). Sejumlah pengunjung mengantre di lapak gorengan. Ada bakwan, perut ayam dan aneka gorengan lainnya. (Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)
Suasana itu terangkum dalam tagline Pasar Rakyat Klojen Nikmat, yakni Blonjo, Ngopi, Njajan, Jagongan. Empat aktivitas dalam bahasa Jawa tersebut menggambarkan cara orang menikmati pasar, mulai dari berbelanja, minum kopi, membeli jajanan, hingga bercengkerama.
Sejak direvitalisasi sekitar 2018, Pasar Rakyat Klojen Nikmat mengalami perubahan dalam penataan dan suasananya. Perubahan semakin terasa setelah pelaku UMKM kuliner masuk dan meramaikan area pasar. Kehadiran mereka tidak hanya menambah pilihan makanan, tetapi juga menghadirkan aktivitas baru yang menarik pengunjung.
Dampak perubahan tersebut turut dirasakan pedagang Lumpur Kentang Panggang Klodjen. Salah satu punggawanya, Bagas Ravindra Putra Dharma (18), menilai penataan tempat berjualan kini lebih teratur, sementara pengelolaan sampah juga semakin diperhatikan.
Menurut Bagas, kondisi tersebut membuat suasana pasar terasa lebih menarik bagi pelanggan, terutama dalam tiga tahun terakhir. Perubahan tidak hanya terlihat dari tampilan fisik, tetapi juga dari semakin beragamnya aktivitas dan pilihan kuliner yang tersedia.
“Iya, yang pasti lebih terstruktur penataan tempat-tempatnya dan juga lebih tertata. Enggak yang tidak teratur. Sampah juga semakin dikontrol pihak-pihak yang berwenang di sini. Jadinya semuanya jadi kelihatan rapi. (Jadi menarik pelanggan ya?) Iya,” tutur Bagas.
Pekerja di lapak Lumpur Kentang Panggang Klodjen tengah membuat lumpur, pada Sabtu (23/10/2026). Di akhir pekan, permintaan lumpur meningkat membuat pekerja di tiga lapak mereka harus bekerja lebih cepat. (Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)
Di balik lapak yang tertata, para pedagang tetap harus memastikan bahan baku, peralatan, dan kebutuhan memasak tersedia agar produksi berjalan lancar.
Bagi Bagas, salah satu kebutuhan yang harus diperhatikan adalah pasokan bahan bakar untuk memasak kue lumpur. Ia menggunakan LPG 3 kilogram dan tabung berukuran 12 kilogram untuk mendukung aktivitas dapurnya.
Bagas mengaku terkadang masih menghadapi kesulitan memperoleh LPG 3 kilogram dari pemasok. Dalam kondisi tersebut, penggunaan tabung berukuran lebih besar menjadi salah satu cara untuk menjaga kegiatan memasak tetap berlangsung.
Menurutnya, LPG 12 kilogram dapat bertahan sekitar tiga hari, sedangkan LPG 3 kilogram digunakan untuk memenuhi kebutuhan memasak sehari-hari.
Dari sisi penjualan, jumlah pembeli Lumpur Kentang Panggang Klodjen juga cukup tinggi. Pada hari kerja, jumlah pelanggan rata-rata mencapai 130 orang. Angka tersebut meningkat saat akhir pekan, ketika jumlah pelanggan diperkirakan mencapai 170 hingga 180 orang. Setiap pelanggan rata-rata membeli sekitar enam kue lumpur.
Selain melayani pembelian langsung, usaha tersebut juga menerima pesanan secara daring melalui salah satu dari tiga lapaknya di Pasar Klojen Nikmat.
Perbedaan daya tahan kedua jenis tabung LPG membuat Bagas perlu menyesuaikan penggunaannya dengan kebutuhan produksi. Pasokan energi menjadi salah satu hal yang harus diperhitungkan agar aktivitas memasak tetap berjalan seiring dengan permintaan pelanggan.
Perubahan suasana Pasar Rakyat Klojen Nikmat juga membuka peluang bagi pedagang untuk menjangkau lebih banyak pembeli. Kehadiran berbagai UMKM kuliner membuat pilihan makanan semakin beragam. Pasar ini tidak lagi hanya menjadi tempat berbelanja kebutuhan rumah tangga, tetapi juga tujuan untuk berburu jajanan.
Bakso Goreng Klodjen, salah satu lapak jajanan yang merasakan dampak positif wajah baru Pasar Rakyat Klojen Nikmat, pada Sabtu (23/10/2026). LPG 3 kilogram turut menjadi penopang usaha UMKM ini. (Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)
Safril, pedagang Bakso Goreng Klodjen asal Bantur, Malang Selatan, telah berjualan di pasar tersebut selama lebih dari setahun. Ia merasakan aktivitas perdagangan yang semakin ramai.
Baca juga:
Pertamina Minta Maaf dan Jelaskan Penyebab Antrean BBM yang Mengular di Jember
Menurut Safril, kehadiran UMKM yang menawarkan beragam jajanan ikut menarik lebih banyak pengunjung. Semakin banyak pilihan makanan yang tersedia, semakin beragam pula alasan orang datang ke pasar.
“Kalau sekarang lebih rame. Kalau dulu kan masih sepi ya. Semenjak ada UMKM yang jajan-jajan ini lebih rame,” cerita Safril.
Peluang tersebut turut dirasakan Safril melalui jumlah bakso goreng yang disiapkannya setiap hari. Pada hari biasa, ia menggoreng lebih dari 400 biji. Jumlah tersebut dapat meningkat pada akhir pekan hingga diperkirakan mencapai sekitar 1.000 biji.
Bakso goreng dijual seharga Rp3.000 per buah, dengan pilihan paket yang memungkinkan pembeli menyesuaikan pesanan. Safril mulai membuka lapak sekitar pukul 07.00 WIB hingga tengah hari. Pada hari-hari tertentu, dagangannya bahkan habis sebelum waktu berjualan berakhir.
Jumlah produksi tersebut menuntut kesiapan dapur sejak pagi. Bahan makanan harus disiapkan, minyak dipanaskan, dan proses menggoreng dilakukan secara bertahap agar dagangan tersedia saat pembeli datang.
Untuk mendukung aktivitas memasak, Safril menggunakan LPG 3 kilogram. Menurutnya, satu tabung dapat digunakan sekitar dua hari, bergantung pada kebutuhan produksi. Selama ini, ia mengaku tidak mengalami kendala berarti dalam memperoleh LPG.
Bagi Safril, ketersediaan LPG menjadi bagian dari kebutuhan operasional sehari-hari. Ketika permintaan meningkat pada akhir pekan, bahan bakar harus tersedia agar proses memasak tidak terhambat.
“Pasokan aman-aman aja. Kita sehari satu tabung, kadang satu tabung itu dua hari,” jelasnya.
Pengunjung menikmati Pecel Klojen Mbak Sri, salah satu lapak paling legendaris di Pasar Rakyat Klojen Nikmat, pada Sabtu (23/10/2026). (Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)
Ramainya Pasar Rakyat Klojen Nikmat juga menarik pengunjung dari berbagai daerah. Mereka tidak hanya berasal dari Malang, tetapi juga Surabaya, Kediri, hingga Banyuwangi. Orang-orang dari luar Pulau Jawa yang memiliki agenda pekerjaan di Malang juga kerap mampir. Kehadiran wisatawan mancanegara turut menambah warna dalam aktivitas di antara lapak-lapak kuliner.
Camelia, wisatawan asal Surabaya, mengaku tertarik mengunjungi Pasar Rakyat Klojen Nikmat setelah melihat konten-konten tentang pasar tersebut di TikTok. Beragam pilihan kuliner membuatnya datang bersama pasangan dan dua sahabatnya.
“Makanannya asli enak-enak, kita beli lumpur, sate ayam tadi, ada juga bakso goreng,” katanya.
Baca juga:
Inovasi Veronica Singajaya Bawa Jajanan Pasar ke Panggung Nasional
Dimsum, tahu goreng, bakso goreng, onde-onde dan lumpur panggang yang diborong Camelia dari lapak-lapak kuliner Pasar Rakyat Klojen Nikmat. (Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)
Selain pilihan kuliner yang beragam, Camelia juga mengapresiasi kebersihan pasar tradisional tersebut. Menurutnya, kebersihan menjadi salah satu hal yang membuat pengunjung merasa nyaman.
“Bersih ini, toiletnya juga bersih,” tegasnya.
Pedagang membuang sampah di tempat sampah yang tersedia di setiap lorong Pasar Rakyat Klojen Nikmat, Sabtu (23/10/2026). Fasilitas dan kebiasaan baik ini membuat pasar terasa sangat bersih. (Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)
Di balik ramainya aktivitas pasar, keberlangsungan usaha kecil bertumpu pada berbagai kebutuhan yang harus dipenuhi secara rutin. Energi untuk mengolah makanan menjadi salah satu bagian penting dalam proses tersebut.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menyatakan Pertamina berkomitmen mendukung keberlangsungan UMKM melalui penyediaan energi yang aman, tersedia, dan sesuai peruntukan.
Komitmen tersebut juga mencakup akses LPG 3 kilogram bagi pelaku usaha yang memenuhi kriteria penerima. Penyaluran dilakukan melalui agen dan pangkalan resmi agar LPG subsidi dapat diperoleh sesuai peruntukan serta ketentuan harga yang ditetapkan pemerintah.
LPG 3 kilogram yang digunakan di salah satu lapak Pasar Rakyat Klojen Nikmat. Pertamina berkomitmen mendukung keberlangsungan UMKM melalui penyediaan energi yang aman, tersedia, dan sesuai peruntukan. (Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)
“Pertamina berkomitmen mendukung keberlangsungan UMKM melalui penyediaan energi yang aman, tersedia, dan sesuai peruntukan, termasuk memastikan akses terhadap LPG subsidi bagi UMKM yang memenuhi kriteria penerima,” kata Ahad.
Bagi pedagang, ketersediaan LPG berkaitan langsung dengan kebutuhan menjaga proses memasak tetap berlangsung. Sementara itu, penyaluran sesuai ketentuan diperlukan untuk memastikan LPG subsidi digunakan oleh kelompok yang berhak.