jatimnow.com - Perdebatan di media sosial hari ini makin mudah membakar amarah publik. Cukup satu unggahan provokatif, ribuan komentar langsung berhamburan berisi makian, tuduhan, hingga saling caci antar kelompok. Suhu panas ini memicu satu pertanyaan krusial: seberapa rentan masyarakat kita diadu domba di ruang digital?
Sorotan tajam ini disampaikan pakar sejarah Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Rojil Nugroho Bayu Aji. Menurutnya, dalam konteks Peringatan Hari Kesaktian Pancasila, masyarakat perlu menyadari bahwa ancaman terhadap persatuan bangsa telah mengalami pergeseran bentuk yang sangat drastis.
"Secara historis, Peringatan Hari Kesaktian Pancasila selalu mengingatkan kita pada dasar negara yang menyatukan. Namun persatuan itu semakin terancam, dan ancaman itu tidak lagi datang dalam bentuk senjata, melainkan bersembunyi di balik kolom komentar dan algoritma media sosial," ujarnya, Sabtu (3/10/2026).
Rojil menilai, tingginya suhu perdebatan di ruang digital merupakan indikator berbahaya. Ketika masyarakat begitu gampang tersulut emosinya di dunia maya, nilai-nilai persatuan Pancasila perlahan-lahan runtuh dari dalam.
"Bahaya terbesar saat ini adalah ketika polarisasi atau pembelahan masyarakat sengaja dipelihara di media sosial. Orang begitu mudah membenci sesama anak bangsa hanya karena beda pandangan politik atau pilihan. Jika ini dibiarkan, kita sedang menggali lubang perpecahan kita sendiri," tambah akademisi yang juga aktif sebagai Koordinator Bonek Surabaya tersebut.
Baca juga:
Refleksi Hari Kesaktian Pancasila, Dandim Lamongan Ajak Warga Rawat Persatuan
Menurut Rojil, merawat Pancasila hari ini tidak cukup dengan sekadar hafalan atau seremoni upacara. Pancasila harus diturunkan secara konkret menjadi perilaku dan filter harian saat memegang ponsel. Sila kemanusiaan misalnya, harus menjadi kompas perilaku bermedia sosial, sehingga tidak mudah menghina, merundung, atau menghujat orang lain.
Sila persatuan, seyogyanya membuat masyarakat saling merangkul, mendukung, dan menguatkan dalam kebaikan di media sosial. Alih-alih menyebar hoaks dan narasi adu domba. Selain itu, sila musyarawah harusnya membuat masyarakat bisa berdiskusi dengan sehat, dan menerima perbedaan pendapat secara konstruktif, bukan justru saling menuduh hanya karena perbedaan pandangan.
Generasi muda dan mahasiswa, menurut Rojil, memegang posisi paling strategis untuk meredam suhu panas ini. Sebagai kelompok paling aktif bermedia sosial, anak muda harus berani mengambil jarak dari arus perdebatan yang kurang bermanfaat.
Baca juga:
Monumen Trisula di Blitar, Simbol Persatuan Kekuatan TNI dan Rakyat Melawan PKI
"Anak muda jangan mau dimanfaatkan oleh narasi-narasi provokatif. Jadilah pemutus rantai perpecahan dengan membangun diskusi yang rasional, menghargai keberagaman pandangan, dan menjaga agar ruang digital kita tetap adem," pungkasnya.
Peringatan Hari Kesaktian Pancasila tahun ini menjadi alarm keras bagi publik: musuh persatuan Indonesia hari ini bukanlah orang lain, melainkan ketidakmampuan masyarakat dalam mengendalikan jemari sendiri di media sosial.