jatimnow.com - Dewan Kesenian Surabaya (DKS) genap berusia 55 tahun pada Kamis (1/10/2026). Perayaan berlangsung sederhana di sekretariat organisasi kesenian tertua Kota Pahlawan tersebut, namun sarat kritik atas minimnya perhatian pemerintah daerah terhadap ruang gerak seniman.
Lantunan tembang Jawa, petikan gitar akustik, serta pembacaan puisi mewarnai malam refleksi yang digelar secara swadaya. Di balik suasana hangat itu, terpancar keteguhan para pegiat seni yang terus menghidupkan ekosistem kebudayaan kota tanpa bergantung pada fasilitas negara.
Perayaan ini mempertemukan pengurus dari enam bidang seni DKS musi, tari, teater, seni rupa, film, dan tradisi bersama jaringan mahasiswa, industri kreatif, hingga sektor pariwisata. Sinergi lintas elemen ini memperkuat jejaring independen yang selama ini menyokong keberlangsungan karya seni di Surabaya.
Ketua DKS, Chrisman Hadi, mengaku bangga atas daya tahan para seniman. Ia menilai perjalanan lebih dari setengah abad menjadi bukti kematangan dan kecintaan mendalam terhadap ruang bersama tersebut.
"Setengah abad lebih bertahan lewat dana swadaya adalah bukti keteguhan teman-teman. Di tengah keterbatasan, enam bidang seni DKS tetap aktif melahirkan karya dan menghidupkan iklim kesenian Surabaya," ujar Chrisman di hadapan para seniman yang hadir.
Chrisman menyayangkan absennya dukungan resmi dari Pemerintah Kota Surabaya. Padahal, Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 5 Tahun 1993 secara tegas mengamanatkan bahwa anggaran kegiatan Dewan Kesenian bersumber dari APBD.
Baca juga:
Dewan Kesenian Surabaya Persoalkan Ultimatum 7 Hari Pengambilan Gamelan
Keprihatinan serupa disampaikan Dewan Kehormatan DKS, Hadi Pranoto. Menurutnya, usia 55 tahun merupakan fase matang bagi lembaga kebudayaan untuk memberi pengaruh luas, tetapi ruang gerak seniman kerap terimpit oleh kebijakan lokal yang tidak berpihak.
"Di tengah gempuran budaya asing melalui media sosial, penguasa kota seharusnya berterima kasih dan menepati janji mendukung seni lokal. Visi kebudayaan nasional yang berdaulat dan berkepribadian mesti menjadi landasan kebijakan," kata Hadi.
Sorotan juga datang dari kelompok aktivis mahasiswa. Ketua DPC GMNI Surabaya Raya, Ni Kadek Ayu Wardani, menilai momentum HUT DKS harus menjadi pengingat bahwa gerakan mahasiswa wajib mengambil peran dalam kerja-kerja kebudayaan.
Baca juga:
Dewan Kesenian Surabaya Laporkan Dugaan Hilangnya Aset Budaya ke Polisi
"Nasionalisme tanpa kebudayaan akan kering, dan pembangunan tanpa jiwa kultural hanya berujung pada hitungan angka serta beton. Kebudayaan adalah medan pembebasan agar masyarakat bangga pada identitasnya sendiri," tegas Ni Kadek.
Malam peringatan ditutup dengan pemotongan tumpeng dan doa bersama. Di tengah segala keterbatasan fasilitas publik, para seniman Surabaya bertekad terus melangkah menjaga identitas dan warisan budaya Kota Pahlawan.
URL : https://jatimnow.com/baca-87971-tanpa-apbd-dewan-kesenian-surabaya-berdikari-rawat-warisan-seni