jatimnow.com – Melimpahnya limbah tandan kosong kelapa sawit di kawasan transmigrasi Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, tak lagi sekadar menjadi tumpukan sampah yang mengganggu lingkungan. Di tangan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga (Unair), limbah tersebut berhasil disulap menjadi media tanam jamur tiram yang bernilai ekonomis tinggi.
Inovasi ini diwujudkan melalui program "Optimalisasi Limbah Sawit sebagai Media Tanam Jamur Tiram untuk Mendukung Sanitasi Sehat dan Peningkatan Ekonomi Masyarakat". Diketuai Prof. Sukardiman, tim TEP Unair melatih warga menyulap limbah perkebunan menjadi peluang usaha baru yang menjanjikan.
"Harapannya, kita bisa membuat satu unit produksi jamur tiram berbasis limbah sawit. Jadi limbah yang ada di daerah itu kita olah menjadi bahan baku media tumbuh jamur," jelas Prof. Sukardiman, Minggu (23/8/2026).
Prof. Sukardiman memaparkan, proses pengolahan dimulai dengan mencacah tandan kosong sawit menggunakan mesin chopper. Cacahan tersebut kemudian dicampur dengan dedak padi, gipsum, dan kapur sebelum dimasukkan ke dalam baglog (media tanam silinder). Setelah melalui tahap sterilisasi, inokulan atau bibit jamur tiram pun ditambahkan.
Guna mendukung kemandirian warga, TEP Unair tidak hanya memberikan pelatihan teori. Tim juga membangun kumbung atau rumah produksi jamur dan menyediakan fasilitas pendukung seperti mesin pencacah serta alat sterilisasi baglog.
Baca juga:
Berdayakan Mama Suku Arfak, TEP Unair Rintis Kampung Dodol Matoa di Manokwari
Konsep ekonomi sirkular ini membuka ganda sumber pendapatan bagi masyarakat Prafi. Yakni warga dapat menjual jamur tiram segar maupun mengolahnya menjadi produk bernilai tambah seperti keripik jamur. Warga juga dapat memproduksi dan memasarkan baglog siap pakai kepada pembudidaya lain.
Dalam pelaksanaannya, program pemberdayaan ini menyasar kelompok ibu-ibu PKK, Dasa Wisma, hingga kelompok pemuda Karang Taruna setempat. Mereka dilatih secara komprehensif mulai dari tahap pengolahan limbah sawit, pembuatan baglog, sterilisasi, perawatan jamur, hingga teknik pengemasan dan pemasaran.
Untuk memastikan keberlanjutan pasar, TEP Unair menggandeng berbagai pihak, mulai dari Dinas Tenaga Kerja, Dinas Pertanian, penyuluh lapangan, pemerintah kampung, hingga pelaku UMKM lokal.
"Produk yang dihasilkan nantinya dapat masuk ke pasar lokal dan memberi nilai tambah yang nyata bagi perekonomian masyarakat," tambah Prof. Sukardiman.