Pixel Code jatimnow.com

Cerita Masjid An-Nur di Ujung Kampung Ketandan Surabaya, Berdiri Kokoh Sejak 1915

Editor : Yanuar D  
Penampakan Masjid An-Nur di Kampung Ketandan Surabaya. (Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)
Penampakan Masjid An-Nur di Kampung Ketandan Surabaya. (Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)

jatimnow.com - Di tengah riuh dan gemerlapnya kawasan Jalan Tunjungan, Surabaya, ada sebuah gang yang seolah mengajak siapa pun memperlambat langkah. Kampung Lawas Ketandan menyimpan jejak masa lalu yang masih bertahan di antara geliat kota yang terus berubah.

Di ujung salah satu gang kampung, berdiri Masjid An-Nur. Bangunan tua ini telah menjadi bagian dari kehidupan warga setempat sejak 1915.

Suasananya teduh. Pintu kayu tebal, jendela-jendela besar, serta pilar kokoh menjadi ciri yang langsung terlihat ketika memasuki area masjid. Di atas pintu masuk terdapat plakat bertuliskan “1915-1958”. Angka tersebut menjadi penanda perjalanan panjang bangunan yang awalnya hanya berupa sebuah langgar kecil tempat warga kampung beribadah.

“Masjid ini dulunya berupa musala (langgar) lalu direnovasi menjadi masjid dengan tidak mengubah keaslian pintu, jendela, kusen, sama pilar-pilarnya,” ujar warga setempat, Jumat (14/8/2026).

Keaslian sejumlah bagian bangunan itulah yang membuat Masjid An-Nur terasa berbeda. Di tengah kawasan perkotaan yang dipenuhi bangunan modern, masjid ini masih mempertahankan wajah lamanya. Meski di area dalam, masjid terlihat lebih modern dengan lampu gantung dan pendingin udara.

Menariknya, perjalanan renovasi masjid juga sempat membuka cerita lain dari masa lalu.

Saat renovasi keempat pada 2023, warga menemukan sekitar 28 botol keramik kuno ketika dilakukan penggalian. Temuan tersebut menambah jejak sejarah yang tersimpan di kawasan Kampung Lawas Ketandan.

Masjid An-Nur sendiri berada di kawasan yang kerap disebut sebagai Segi Empat Emas Surabaya. Lokasinya berada di antara Jalan Tunjungan di sebelah timur, Jalan Embong Malang di selatan, Jalan Blauran di barat, dan Jalan Praban di utara.

Namun, Ketandan hari ini bukan hanya tentang bangunan-bangunan tua.

Baca juga:
Blusukan ke Gang Sempit Jalan Tunjungan Surabaya, Ada Makanan Khas Jogja yang Autentik

Gang-gang sempit di kampung tersebut kini kembali hidup dengan hadirnya sejumlah kafe. Anak-anak muda Surabaya hingga wisatawan yang berkunjung ke kawasan Tunjungan mulai menjadikan kampung lawas ini sebagai salah satu tempat untuk berhenti, sekadar menikmati kopi dan suasana.

Suasana gang di Kampung Ketandan dan penunjuk arah Arek Cafe dan Masjid An-Nur. (Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)Suasana gang di Kampung Ketandan dan penunjuk arah Arek Cafe dan Masjid An-Nur. (Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)Salah satunya Arek Cafe, yang hadir dengan konsep tempat nongkrong di tengah Kampung Ketandan. Kafe ini bahkan memiliki rooftop yang menawarkan pengalaman berbeda menikmati suasana kampung dari ketinggian.

“Kita kalau main ke Surabaya, lebih seneng eksplore gang-gang seperti ini sih, hidden gem ya kalau kata anak muda,” kata Nisa, yang datang bersama teman-temannya dari Malang.

Bagi pengelolanya, kafe tersebut bukan sekadar tempat untuk ngopi. Ada upaya menjadikannya sebagai ruang bertemu, bertukar cerita sekaligus menjaga identitas khas Surabaya.

Nama “Arek” dipilih bukan tanpa alasan. Istilah yang lekat dengan panggilan anak muda Surabaya itu menjadi bagian dari upaya membawa karakter lokal ke dalam sebuah ruang modern.

Baca juga:
Surabaya Fashion Festival Jadi Magnet, Warga Bebas Foto Bareng Peraga

Nuansa itu juga terasa dari pilihan warna interior yang didominasi hijau. Warna tersebut sengaja dipilih karena dianggap dekat dengan semangat warga Surabaya sekaligus identitas klub sepak bola kebanggaan kota, Persebaya.

Perpaduan bangunan tua, aktivitas warga dan munculnya ruang-ruang kreatif membuat Kampung Lawas Ketandan memiliki wajah yang unik.

Di tempat ini, masa lalu tidak sepenuhnya ditinggalkan. Ia justru berjalan berdampingan dengan kehidupan baru.

Masjid An-Nur menjadi salah satu penandanya. Bangunan yang telah melewati lebih dari satu abad itu tetap berdiri, sementara di sekitarnya anak-anak muda datang untuk bercengkerama, wisatawan menyusuri gang, dan kedai kopi terus menghidupkan kampung.