jatimnow.com - Syifa’ani Maulidah Zakiyah Rosyid resmi menyandang gelar dokter pada usia 22 tahun. Ia menjadi salah satu lulusan yang menarik perhatian dalam pelantikan dokter Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Kamis (13/8/2026).
Perjalanan pendidikan dokter yang akrab disapa Fani itu terbilang tidak biasa. Ia mulai menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Unusa ketika usianya baru 15 tahun.
Fani lahir di Malang pada 12 Mei 2004. Sebelum masuk perguruan tinggi, ia bersekolah di Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet, Mojokerto, dan mengikuti program akselerasi sejak jenjang SMP hingga SMA.
Program tersebut membuat Fani menyelesaikan pendidikan menengah lebih cepat. Ia kemudian diterima di Fakultas Kedokteran atau FK Unusa pada usia yang jauh lebih muda dibandingkan mahasiswa seangkatannya.
“Ketika pertama kali masuk kuliah, banyak teman yang kaget karena saya masih sangat muda. Mereka sering memanggil saya ‘Bucil’,” kata Fani.
Menurut dia, perbedaan usia justru tidak menjadi hambatan selama menjalani perkuliahan. Teman-teman yang awalnya menganggapnya seperti adik sendiri kemudian banyak memberikan dukungan selama proses pendidikan.
Tumbuh di Lingkungan Rumah Sakit
Keputusan Fani menjadi dokter tidak terlepas dari lingkungan keluarganya. Ayahnya, dr. Sulaiman Rosyid, M.MKes, merupakan dokter sekaligus Direktur RSUD Wahidin Sudiro Husodo, Mojokerto.
Sejak kecil, Fani kerap diajak ke rumah sakit dan melihat aktivitas dokter dalam menangani pasien. Pengalaman itu perlahan menumbuhkan keinginan untuk mengikuti jejak sang ayah.
Minat kedokteran juga berkembang di antara saudara-saudaranya. Dua adiknya kini menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran pada kampus berbeda, sedangkan satu adiknya yang masih duduk di bangku SMA disebut memiliki ketertarikan mengikuti jejak kakaknya.
“Papi sih berharap anak-anaknya bisa di kedokteran semua. Soal kampusnya terserah di mana saja,” ujar Fani.
Baca juga:
Era AI, Rektor Unusa Ingatkan Dokter Tak Kehilangan Sentuhan Manusia
Kedekatan dengan lingkungan rumah sakit sejak kecil turut membantunya ketika memasuki pendidikan profesi. Fani mengaku tidak membutuhkan waktu lama untuk beradaptasi dengan suasana pelayanan kesehatan.
Selain lingkungan keluarga, pendidikan pesantren juga menjadi bagian penting dalam perjalanan akademiknya. Jadwal belajar yang padat sejak pagi hingga sore, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan mengaji pada malam hari, membentuk kebiasaan disiplin dan kemampuan mengatur waktu.
Kebiasaan tersebut menjadi bekal ketika Fani harus menghadapi jadwal pendidikan kedokteran yang juga padat.
Ingin Lanjut Pendidikan Spesialis
Setelah menyelesaikan pendidikan dokter, Fani belum ingin berhenti belajar. Ia berencana melanjutkan pendidikan ke jenjang spesialis.
Baca juga:
Anak Muda 8 Negara Kumpul di Surabaya, Dorong Solusi SDGs
Bidang bedah dan spesialis mata menjadi dua pilihan yang saat ini paling menarik perhatiannya. Menurut Fani, kedua bidang tersebut menawarkan tantangan sekaligus ruang untuk terus mengembangkan kompetensi.
Rektor Unusa Prof. Tri Yogi Yuwono mengatakan perjalanan Fani menjadi gambaran bahwa usia bukan faktor utama dalam menentukan keberhasilan pendidikan kedokteran.
Menurut dia, kedisiplinan, ketekunan, dan kemauan untuk terus belajar menjadi modal penting bagi mahasiswa kedokteran.
Unusa, kata Tri Yogi, tidak hanya berupaya mencetak dokter dengan kemampuan akademik yang kuat, tetapi juga tenaga medis yang memiliki karakter, empati, dan dedikasi dalam melayani masyarakat.
Pelantikan dokter Unusa kali ini menjadi penanda bertambahnya tenaga medis yang siap mengabdikan kompetensinya kepada masyarakat. Di antara para dokter baru itu, perjalanan Fani memperlihatkan bahwa kesempatan meraih cita-cita dapat datang lebih cepat ketika didukung kerja keras, lingkungan yang mendukung, dan disiplin dalam belajar.
URL : https://jatimnow.com/baca-86732-kuliah-kedokteran-sejak-usia-15-tahun-fani-kini-jadi-dokter