Pixel Code jatimnow.com

UB Perkuat Skrining Mental Maba di Tengah Maraknya Kasus Bunuh Diri Mahasiswa

Editor : Yanuar D   Reporter : Avirista Midaada
Suasana pelaksanaan PK2MABA Universitas Brawijaya. (Foto: Aris/jatimnow.com)
Suasana pelaksanaan PK2MABA Universitas Brawijaya. (Foto: Aris/jatimnow.com)

jatimnow.com - Universitas Brawijaya (UB) memperkuat skrining kesehatan mental bagi mahasiswa baru di tengah maraknya kasus bunuh diri mahasiswa. Upaya ini menjadi bagian dari pendekatan edukatif dan preventif yang dilakukan kampus sejak masa Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) 2026.

Total ada sekitar 17.300 mahasiswa UB yang mengikuti PK2MABA mulai 10-15 Agustus 2026. Kegiatan ini terbagi PK2MABA universitas selama dua hari pada Senin (10/8/2026) dan Selasa (11/8/2026) besok, disusul tiga hari PK2MABA di fakultas masing-masing sejak Rabu-Jumat 12 sampai 15 Agustus 2026.

Direktur Direktorat Kemahasiswaan Universitas Brawijaya Dr. Sujarwo mengungkapkan, skrining kesehatan mental menjadi salah satu syarat bagi Maba UB 2026. Namun bagi UB, skrining kesehatan ini bukanlah hal baru, mengingat pada tahun 2023 skrining kesehatan mental sudah mulai dilakukan untuk mahasiswa Semester 5 sebelum kegiatan Mahasiswa Membangun Desa (MMD).

"Saat mahasiswa membangun desa di tahun 2023 oleh mahasiswa semester 5, 2024 skrining kita ke Maba, 2025 kita skrining mental lagi, 2025, 2026 kita skrining, jadi kita punya series data, sehingga dari database kita tahu pengelolaan kondisi mental adik-adik mahasiswa," kata Sujarwo, dalam konferensi pers di Universitas Brawijaya, Senin pagi (10/8/2026).

Menurutnya, skrining kesehatan mental menjadi salah satu concern UB, terhadap mental mahasiswanya. Selain skrining kesehatan mental, UB memiliki sejumlah akses terhadap kesehatan mental bagi mahasiswanya mulai di tingkat fakultas hingga universitas. Sejumlah stakeholder ini membuat kampus bisa mendampingi mahasiswanya yang mengalami gangguan mental dan memitigasi terjadinya hal tersebut.

"Maka kita satu Brawijaya ada komponen-komponen yang diarahkan membangun ekosistem yang kondusif untuk belajar, ada BEM konselor sendiri, tapi kita bekali jangan sampai membantu malah mencelakai. Jadi ada kesulitan psikologis kita dampingi," terangnya.

Maka setiap hasil asesmen skrining kesehatan mental dipastikan tak akan menjadi konsumsi publik, dan hanya menjadi bagian dari mitigasi pencegahan bagi kampus. Makanya diakui ada beberapa pertanyaan selama asesmen skrining kesehatan mental, yang mengarah ke urusan pribadi Maba.

"Jika ditemukan hasik tertentu, akan kami proses dulu, tidak bisa kami sampaikan ke publik. Tapi yang jelas pimpinan-pimpinan mengetahui, kondisi mental adik-adik, makanya awarness semakin tinggi, sehingga kemampuan untuk pencegahan dan mitigasi semakin tinggi," ucapnya.

Baca juga:
Mahasiswa Universitas Brawijaya Tolak Kampus Kelola SPPG, Rektorat Bungkam

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik UB Prof. Imam Santoso menjelaskan, skrining kesehatan mental bagi Maba menjadi deteksi dini awal bagi pihak kampus. Setiap unit di tingkat fakultas hingga universitas juga telah berkoordinasi memastikan mahasiswa baru yang masuk memiliki kondisi mental yang bagus, termasuk langkah pendampingan ke mahasiswa - mahasiswa yang memiliki beban mental.

"Ada beberapa memang memiliki bawaan secara kesehatan mental harus dilakukan pendampingan, nanti secara proaktif tim UB akan melakukan koordinasi dengan unit di fakultas, sehingga memastikan bahwa adik-adik yang secara punya pilihan," ucap Prof. Imam Santoso.

Selama proses PK2MABA, kampus juga telah melakukan beberapa penyesuaian, mulai dari pengaturan mobilitas dan pelaksanaan, dengan pola hybrid dan bekerjasama dengan pihak-pihak eksternal di luar universitas.

"Kita tahu concern pelaksanaan PK2MABA berjalan baik, Pola hybrid kira lakukan, kita juga koordinasi intensif dengan eksternal dg polri, keamanan juga, pihak Koramil, sehingga kita pastikan pelaksanaannya berjalan baik, jika ada gangguan kamtib masih dalam tahap yang bisa terkendali," tuturnya.

Baca juga:
Antisipasi Kecurangan UTBK di UB, Peserta Dicek Behel Gigi hingga Kancing Baju

Rektor Universitas Brawijaya Prof. Widodo pun menegaskan, pelaksanaan PK2MABA menjadi satu acuan untuk promosi kesehatan mental, anti kekerasan, dan budaya Inklusif. Dimana di UB sendiri sudah dibentuk sejumlah unit untuk penanganan khusus, termasuk mengantisipasi kekerasan dan kekerasan seksual yang terjadi selama perkuliahan.

"Kalau ada pelanggaran kemana, nggak semuanya kita tahu semua, tapi semua fakultas sudah ada, di UB ada satgasnya juga. Termasuk untuk di UB care itu masyarakat umum bisa menyampaikan jika ada pelanggaran - pelanggaran," kata Widodo, 

Mahasiswa baru juga diajarkan bagaimana pemanfaatan teknologi Artificial Intellegence (AI) yang mampu mempercepat dan memberikan efisiensi pada proses pembelajaran. "Anak-anak kita yang baru menggunakan AI untuk kreatifitasnya, AI digunakan untuk mempercepat pembelajaran dan proses efisiensi," tukasnya.