jatimnow.com - Batik tulis Indonesia dinilai punya peluang besar menjadi pemain utama industri fashion dunia. Namun, jalan menuju pasar global tak cukup hanya mengandalkan kekuatan budaya.
Industri batik nasional perlu bergerak lebih modern lewat inovasi teknologi, diversifikasi produk, dan penguatan digitalisasi.
Gagasan tersebut disampaikan Liosten Rianna Roosida Ully Tampubolon saat dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Ilmu Manajemen Organisasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Dr. Soetomo, Kamis (21/5/2026).
Dalam orasi ilmiah bertajuk From Heritage to Global Fashion: Optimalisasi Diversifikasi Batik Tulis Berbasis Inovasi Teknologi menuju Industri Kreatif Dunia, Guru Besar Unitomo Prof Ully memaparkan tantangan utama yang masih membelit Industri Kecil dan Menengah (IKM) batik di Indonesia.
“Penetrasi pasar global industri batik masih terkendala pola produksi tradisional, minim diversifikasi, dan rendahnya literasi digital,” kata Ully.
Menurutnya, teknologi bukan ancaman bagi warisan budaya batik. Justru sebaliknya, teknologi bisa menjadi alat untuk menjaga kualitas, mempercepat produksi, sekaligus memperluas pasar tanpa menghilangkan nilai autentik batik tulis.
Penelitian yang dilakukan Prof Ully sepanjang 2014 hingga 2026 menunjukkan dampak nyata penerapan teknologi di sentra batik Jawa Timur. Salah satunya pada Batik Tulis Aromatherapy Al-Warits di Bangkalan, Madura.
Melalui penggunaan mesin pelorot malam inovatif, kapasitas produksi batik meningkat hingga 373 persen dibanding metode konvensional. Tingkat kerusakan produk juga turun drastis dari 15 persen menjadi hanya 1 persen.
Baca juga:
Gus Iqdam Sebut Mahasiswa Tak Cukup Hanya Pintar, Harus Dekengan Pusat
Tak berhenti di situ, Prof Ully juga memperkenalkan Mesin Peratusan Aromatherapy yang mampu membuat aroma kain bertahan sampai tiga tahun.
Sementara limbah pewarna sintetis diolah kembali menggunakan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) agar lebih ramah lingkungan.
Hasil inovasi tersebut mulai membuka jalan batik lokal ke pasar internasional. Produk batik aromatherapy kini telah diekspor ke Amerika Serikat, Eropa, Australia, Jepang, Singapura, hingga Thailand.
Untuk menghadapi persaingan dari produk tekstil China dan Malaysia, pengembangan mesin pembuat motif batik otomatis juga dilakukan guna memperkaya desain dan mempercepat produksi.
Baca juga:
Mahfud MD Ingatkan Bahaya Hukum Kedodoran
Rektor Universitas Dr. Soetomo, Prof Siti Marwiyah, mengatakan kampus memiliki tanggung jawab mendorong hasil riset agar bisa langsung dirasakan masyarakat.
“Kami tidak ingin karya ilmiah hanya menjadi dokumen di rak perpustakaan. Inovasi teknologi tepat guna yang digagas Prof Ully membuktikan sains manajemen organisasi mampu mengubah industri mikro menjadi pemain global,” ujarnya.
Prof Siti menambahkan, penguatan industri batik nasional juga membutuhkan dukungan regulasi pemerintah, terutama terkait akses pembiayaan UMKM, perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), hingga infrastruktur digital untuk ekspor global.
Rapat Terbuka Senat Universitas Dr. Soetomo turut dihadiri Dyah Sawitri bersama jajaran Yayasan Pendidikan Cendekia Utama (YPCU), dosen, akademisi, serta pelaku industri kreatif.