Pixel Code jatimnow.com

ICMI Jatim: Menutup Prodi Tak Relevan Adalah Sesat Pikir Birokrasi

Editor : Ni'am Kurniawan   Reporter : Ali Masduki
Kebijakan penutupan program studi berpotensi mereduksi makna pendidikan menjadi sekadar alat produksi tenaga kerja. (Foto ilustrasi: Gemini/jatimnow.com)
Kebijakan penutupan program studi berpotensi mereduksi makna pendidikan menjadi sekadar alat produksi tenaga kerja. (Foto ilustrasi: Gemini/jatimnow.com)

jatimnow.com - Kebijakan pemerintah yang berencana melakukan penutupan program studi (prodi) lantaran dianggap tidak sejalan dengan kebutuhan industri memicu gelombang kritik.

Langkah tersebut dinilai sebagai bentuk penyederhanaan masalah yang berbahaya dan justru menunjukkan rapuhnya struktur ekonomi nasional, bukan kesalahan institusi pendidikan.

Mantan Rektor Unitomo sekaligus Ketua ICMI Jawa Timur, Ulul Albab, menyebut logika pemerintah cacat sejak dalam pikiran.

Menurutnya, kegagalan penyerapan lulusan perguruan tinggi di pasar kerja merupakan dampak dari industrialisasi yang stagnan serta minimnya lapangan kerja berkualitas.

"Menutup prodi dalam kondisi seperti ini ibarat mematikan lampu karena ruangan gelap, padahal yang seharusnya diperbaiki adalah sumber cahayanya," tegas Ulul dalam keterangannya, Rabu (29/4).

Ulul mengkhawatirkan kampus akan kehilangan jati diri sebagai pusat pembentukan nalar kritis jika terus dipaksa tunduk pada kepentingan pasar jangka pendek.

Jika standar keberhasilan hanya diukur dari keterserapan industri, maka perguruan tinggi tidak lagi membangun bangsa, melainkan sekadar menyiapkan buruh terdidik.

Baca juga:
Gus Iqdam Sebut Mahasiswa Tak Cukup Hanya Pintar, Harus Dekengan Pusat

Keresahan ini muncul karena indikator "relevansi" yang digunakan pemerintah seringkali tidak transparan. Tanpa riset mendalam, kebijakan tersebut berisiko hanya menjadi keputusan reaktif birokrasi yang bersifat politis.

Ia mencontohkan bagaimana disiplin ilmu yang dulu dianggap abstrak justru menjadi tulang punggung teknologi masa kini. Matematika murni, misalnya, kini menjadi basis kriptografi digital, sementara filsafat logika merupakan akar dari pengembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).

"Kajian linguistik yang sempat dipandang tidak produktif secara ekonomi, sekarang menjadi mesin utama teknologi pemrosesan bahasa alami atau NLP pada berbagai platform digital," paparnya.

Baca juga:
Gubes Unitomo Prof Ully Dorong Batik Tulis Jadi Kekuatan Industri Fashion Dunia

Daripada menghakimi dan menutup ruang akademik, pemerintah disarankan fokus memperkuat ekosistem industri nasional. Ulul menekankan bahwa pendidikan tinggi adalah investasi peradaban, bukan mesin ekonomi jangka pendek yang bisa dibongkar pasang sesuka hati.

Setiap kebijakan yang abai terhadap fungsi dasar kampus sebagai penjaga nilai peradaban bakal memberikan dampak buruk bagi masa depan Indonesia.

"Kampus perlu didorong untuk bertransformasi, bukan malah dihakimi," pungkasnya.