jatimnow.com - Dampak kemarau panjang di Kabupaten Blitar, diprediksi akan berlangsung hingga November mendatang. Perkiraan ini molor dari yang sebelumnya diprediksi pada September lalu.
Hingga kini, ada lima kecamatan meliputi Bakung, Wonotirto, Panggungrejo, Binangun dan Wates masih menjadi wilayah terparah krisis air bersih. Tidak menutup kemungkinan terjadi pembengkakan dana bencana.
Meskipun begitu, Pemkab Blitar menyebut ada dana talangan untuk mengatasi terjadinya pembengkakan dana akibat kemarau panjang.
"Kalau dana bencana, tahun ini kami alokasikan sampai bulan November, sebesar 250 juta rupiah. Kalaupun nanti ada pembengkakan, ada bantuan dari provinsi, dana siap pakai. Dan kalau masih kurang lagi, bisa mengajukan ke BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana)," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blitar, Heru Irawan, Selasa (09/10/2018).
Kata Heru, selain karena kemarau panjang, penyebab krisis air bersih karena kondisi geografis berupa pegunungan. Jarak air bawah tanah juga cukup jauh.
Baca juga:
Kementan Siapkan Langkah Strategis Jaga Produktivitas Hasil Pertanian di Lamongan
Hingga kini ada 16 desa yang tercatat kekurangan air bersih. Jumlah ini disebut mengalami penurunan dibanding 2017 lalu dengan kebijakan sumur bor oleh sejumlah OPD.
"Ada OPD perumahan dan pemukiman bisa. Termasuk dari PMI dan Dinas Kesehatan bisa mengebor untuk air bersih," papar Heru.
Ia menambahkan, solusi jangka panjang untuk mengatasi krisis air bersih tiap tahun hanya dengan mengalirkan air bersih. Bila sumur bor bisa terus terealisasi, diperkirakan krisis air bersih di Blitar Selatan bisa teratasi.
Baca juga:
BMKG Ungkap Peta Kemarau Jatim 2026: Mayoritas Kering Mulai Mei
"Ya paling tidak lima tahun mendatang bisa teratasi kalau sumur bor bisa terlaksana," tandasnya.
URL : https://jatimnow.com/baca-7733-dampak-kekeringan-di-blitar-diperkirakan-lebih-lama