Kader NU Soroti Mandeknya Kegiatan Rutin PCNU Jember Selama Masa Karteker

Minggu, 04 Okt 2026 12:40 WIB
Reporter :
Sugianto
Faiz salah satu kader NU. (dok. Pribadi)

jatimnow.com - Masa kerja karteker di PCNU Jember yang telah berjalan sekitar 76 hari mulai mendapat sorotan dari kalangan kader Nahdlatul Ulama. Kritik terutama diarahkan pada keberlangsungan kegiatan rutin organisasi yang selama ini menjadi bagian dari aktivitas PCNU Jember, namun belakangan tidak lagi terlihat seperti sebelumnya.

Faiz, kader NU dari kalangan santri dan mahasiswa, menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius. Menurutnya, masa karteker semestinya tidak dimaknai sebagai berhentinya aktivitas organisasi, melainkan masa transisi untuk menjaga keberlangsungan roda organisasi sekaligus mempersiapkan kembalinya kepengurusan definitif.

“Yang kami pertanyakan bukan semata-mata soal ada atau tidaknya sebuah kegiatan. Yang lebih penting adalah apakah selama masa karteker roda organisasi tetap hidup dan kader serta warga NU tetap mendapatkan ruang pembinaan,” ujar Faiz, Sabtu (3/10/2026).

Ia menyebut sejumlah kegiatan rutin yang sebelumnya menjadi bagian dari aktivitas PCNU Jember kini tidak lagi terlaksana. Di antaranya kegiatan shalawatan dan pengajian Aswaja yang secara rutin dilaksanakan setiap bulan, tepatnya pada malam Selasa Kliwon.

Selain itu, kegiatan Lailatul Ijtima yang selama ini menjadi salah satu ruang pertemuan dan penguatan hubungan warga NU juga disebut tidak berjalan seperti sebelumnya. Demikian pula kegiatan pengawasan dan koordinasi rutin dengan MWCNU serta berbagai kegiatan yang berkaitan dengan penguatan spiritual kader.

Bagi Faiz, kegiatan-kegiatan tersebut tidak semestinya dipandang hanya sebagai agenda seremonial. Pengajian, shalawatan, Lailatul Ijtima, koordinasi dengan MWCNU, dan kegiatan spiritual merupakan bagian dari proses menjaga kohesi organisasi sekaligus membangun komunikasi antara struktur dan warga.

“NU bukan hanya organisasi yang bergerak ketika ada konferensi atau agenda besar. NU juga hidup dari kegiatan rutin, pengajian, shalawatan, silaturahmi, pembinaan kader, dan komunikasi dengan struktur di bawah. Kalau semua itu berhenti, yang perlu kita tanyakan adalah bagaimana denyut organisasinya selama masa transisi,” katanya.

Faiz memahami bahwa karteker memiliki batas kewenangan tertentu. Namun, menurutnya, batas kewenangan tersebut perlu dibedakan dengan penghentian aktivitas organisasi secara keseluruhan.

\

“Kalau ada kegiatan yang memang tidak boleh dilaksanakan karena batas kewenangan karteker, tentu harus ada penjelasan berdasarkan aturan. Tetapi kalau kegiatan tersebut masih dapat dilakukan dan memang menjadi bagian dari pembinaan organisasi, mengapa harus berhenti?” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya komunikasi antara PCNU dan MWCNU. Menurutnya, koordinasi dengan struktur di bawah tidak boleh berhenti hanya karena organisasi sedang berada dalam masa karteker.

“Justru ketika organisasi sedang mengalami transisi, komunikasi harus semakin intensif. MWCNU jangan sampai merasa berjalan sendiri tanpa arah dan koordinasi dari cabang,” tutur Faiz.

Faiz berharap pejabat karteker PCNU Jember segera memastikan kembali keberlangsungan kegiatan organisasi yang masih berada dalam ruang kewenangannya, sekaligus menjelaskan kepada struktur NU mengenai agenda yang dapat dilaksanakan selama masa transisi.

“Kritik ini bukan untuk menjatuhkan karteker. Kami justru ingin mengingatkan bahwa organisasi harus tetap hidup. Karteker itu sementara, tetapi pelayanan dan pembinaan kepada warga NU tidak boleh kehilangan arah,” pungkasnya.

Tags :
Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!
Berita Jember

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler