jatimnow.com – Fenomena iklim El Nino tidak hanya membawa ancaman kekeringan ekstrem dan kebakaran darat, tetapi juga memicu momok baru berupa bencana sekunder. Sayangnya, kesiapsiagaan mitigasi di Indonesia dinilai masih jauh dari kata maksimal akibat penanganan yang melulu reaktif dan amburadulnya tata kelola antarlembaga.
Kritik tajam tersebut dilontarkan pakar manajemen bencana Universitas Airlangga (Unair) Aditya Prana Iswara. Ia menilai bahwa ego sektoral masing-masing instansi masih menjadi batu sandungan utama dalam menghadapi rutinitas bencana di Tanah Air.
“Mitigasi bencana sangat penting dilakukan terutama untuk bencana tahunan. Baik itu banjir maupun kekeringan. Namun, sampai saat ini tata kelola dan sinergi antarlembaga di Indonesia masih tumpang tindih sebab ego sektoralnya masih sangat besar,” tegas Aditya, Selasa (25/8/2026).
Baca juga: Bulog Kediri Siap Hadapi El Nino, Stok Beras Aman hingga 14 Bulan ke Depan
Untuk menyiasati ancaman krisis air bersih saat kemarau panjang, masyarakat didesak agar tidak pasrah dan hanya bergantung pada pemerintah. Memiliki cadangan air mandiri atau reservoir skala rumah tangga adalah kunci pertahanan.
Aditya sangat merekomendasikan taktik pemanenan air hujan sebagai solusi jitu. Adapun, langkah taktis yang bisa diterapkan di antaranya dengan melakukan modifikasi talang. Yakni mengarahkan aliran air hujan dari talang atap rumah untuk berkumpul ke satu sudut saluran khusus.
Baca juga: PG RMI Blitar Targetkan Produksi 90 Ton Gula di Musim Giling 2024
Sebelum masuk ke penampungan akhir, pastikan air melewati proses penyaringan dan sterilisasi agar layak pakai. Salurkan air yang telah difilter ke dalam tandon bawah untuk disimpan sebagai stok darurat.
“Kita bisa mengambil air ketika posisi sumber air masih banyak, contohnya ketika sedang hujan. Meskipun mungkin air yang ditampung terasa minim dibandingkan konsumsi harian, langkah ini sangat efektif untuk menciptakan cadangan air mandiri,” jelasnya.
Kekeringan panjang membawa efek domino yang mengerikan. Saat kemarau melanda, sumber air yang tadinya berjarak 1 meter bisa merosot drastis hingga kedalaman 10 meter. Kondisi krisis air bersih ini secara langsung memukul tingkat higienitas masyarakat dan menjadi bom waktu bagi meledaknya wabah penyakit baru.
Baca juga: Terdampak Cuaca, Harga Cabai Rawit di Lamongan Tembus Rp60 Ribu per Kilogram
Menghadapi hal ini, Aditya menekankan bahwa perubahan iklim harus dilawan dengan perubahan pola konsumsi masyarakat yang lebih ramah lingkungan. Ketaatan pada aturan baku mutu lingkungan adalah wujud nyata kontribusi warga terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-6 (Air Bersih) dan ke-13 (Penanganan Perubahan Iklim).
“Kita harus mulai berbicara terkait dengan green consumption, jangan terlalu over consumption. Kita harus menata kebutuhan sesuai dengan apa yang benar-benar kita butuhkan,” pungkasnya.