jatimnow.com – Menguatnya cengkeraman oligarki dan semakin terpinggirkannya ideologi Pancasila dalam pengambilan keputusan negara memantik keprihatinan serius dari kalangan akademisi dan pengamat politik. Pergeseran arah kebijakan ini dinilai menjadi pemicu utama kegaduhan dan kemarahan publik.
Hal tersebut ditegaskan Rocky Gerung, dalam diskusi bertajuk 'Red Talks: Indonesia Punya Kita: Nasionalisme Tanpa Batas Generasi' yang digelar di Gedung Malang Creative Center (MCC) Kota Malang.
Rocky menyoroti fenomena partai politik selaku muara kekuasaan yang kini mulai kehilangan ruh ideologinya. Ia secara lugas mendorong agar partai politik, khususnya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), berani menegakkan kembali pemikiran-pemikiran Ir. Soekarno untuk membendung kekuatan oligarki.
Baca juga: Syaifuddin Zuhri Jadi Ketua DPRD Surabaya, Said Abdullah Beri Pesan
"Yang kita perlukan adalah argumen. Jadi, tantanglah PDIP, sekuat apa sih energi nasionalisme untuk menghalangi oligarki, sekuat apa Pandu Marhaen itu mampu untuk menjaga kedaulatan sebagai simbol dari Pancasila," tegasnya.
Menurut Rocky, ideologi tidak boleh sekadar menjadi pajangan dasar negara, melainkan harus menjadi landasan utama dalam mengkaji, berargumen, dan mengambil keputusan.
"Kalau anda ingin marah dengan arah, anda butuh argumen, supaya arahnya bisa dihasilkan dengan kepastian dan keyakinan, maka arah itu harus ideologis. Jadi, itu yang selalu saya ingin terangkan kepada teman-teman anak muda, bahwa mari kita bertengkar dengan argumen dan dengan arah ideologis," kata Rocky.
Baca juga: Sikap PDIP Jatim Atas Ketegangan Geopolitik Timur Tengah
Pakar Komunikasi Politik Universitas Airlangga (Unair), Suko Widodo, menekankan peran krusial parpol dalam menularkan kembali nilai ideologi ke masyarakat akar rumput (grassroot) dan generasi muda.
Suko menyoroti tren generasi muda saat ini yang cenderung skeptis dan apatis terhadap dinamika politik. Ia mencontohkan realitas di ruang kelas, di mana banyak mahasiswa memilih bermain ponsel dan berharap perkuliahan cepat usai alih-alih peduli pada perubahan.
Untuk memecah keapatisan tersebut, Suko mendesak elite politik untuk tidak hanya berpusat pada isu di ibu kota.
Baca juga: Struktur Pengurus DPP PDIP dan Sejumlah Kader Asal Jatim di Posisi Strategis
"Harus datang, kalau gelisah empati itu perjumpaan, ada proses komunikasi dalam bentuk pertemuan, saya berharap PDIP mengangkat kegelisahan itu. Persoalan kita jangan hanya melihat Jakarta saja, tapi di Ponorogo, Sampang, dimanapun di sekitar kita," lanjut Suko.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa menghidupkan kembali ideologi membutuhkan kekompakan dan semangat gotong royong yang menjadi modal fundamental bangsa Indonesia.
"Kalau kita gotong royong kan kita punya kekuatan, kalau birokrasi nggak bisa bekerja, ya partai kayak PDIP itu yang menciptakan working ideologi itu," ujarnya.