jatimnow.com - Percepatan transisi energi di Indonesia memasuki babak baru. Setelah pemerintah menetapkan berbagai kebijakan di sektor ketenagalistrikan melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, tantangan berikutnya adalah memastikan target tersebut berjalan di lapangan.
Isu tersebut menjadi pembahasan utama dalam Surabaya Electric Forum yang digelar Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) Wilayah Jawa Timur sebagai bagian dari Indonesia Energy Week Surabaya 2026.
Forum yang berlangsung pada 15-18 Juli di Grand City Convention & Exhibition Surabaya mempertemukan pemerintah, PLN Group, akademisi, pelaku industri, hingga pemangku kepentingan sektor energi untuk membahas strategi mempercepat pengembangan energi baru terbarukan (EBT).
Baca juga: Indonesia Energy Week Resmi Digelar di Surabaya hingga 18 Juli
Rektor Institut Teknologi PLN, Prof. Iwa Garniwa, menilai transisi energi tidak hanya sebatas membangun pembangkit EBT, tetapi juga menyiapkan ekosistem nasional yang mampu bersaing di tingkat global.
Ia memprediksi konektivitas sistem kelistrikan lintas negara akan menjadi kebutuhan pada masa depan sehingga Indonesia harus menyiapkan sumber daya manusia dan kompetensi sejak sekarang.
"Suatu saat jaringan listrik bisa saja tidak lagi dibatasi oleh batas negara, sebagaimana yang terjadi pada jaringan telekomunikasi saat ini. Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis. Karena itu, kita tidak cukup hanya membangun infrastruktur energi, tetapi juga harus menyiapkan talenta, kompetensi, dan ekosistem nasional yang mampu menjawab tantangan global yang semakin kompleks," terangnya.
Direktur Distribusi PT PLN (Persero) sekaligus Sekretaris Jenderal MKI, Arsyadany Ghana Akmalaputri, menyebut pemerintah telah memiliki arah yang jelas melalui RUPTL 2025-2034. Menurutnya, pekerjaan berikutnya adalah mempercepat realisasi berbagai program agar manfaatnya segera dirasakan masyarakat dan dunia usaha.
"RUPTL sudah memberikan arah yang jelas. Bukan lagi menentukan tujuan, tetapi seberapa cepat kita mampu mencapainya. Yang terpenting sekarang adalah membangun ekosistem yang mampu menjaga ketahanan energi, keberlanjutan, sekaligus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat," ujarnya.
Baca juga: Genap 61 Tahun, PGN Kuasai 95 Persen Infrastruktur Gas Nasional
Sementara itu, Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Ahmad Amiruddin, mengatakan pelaksanaan transisi energi harus tetap menjaga keseimbangan tiga aspek utama atau energy trilemma, yakni ketahanan energi, keberlanjutan, dan keterjangkauan.
Menurutnya, pengembangan energi terbarukan perlu berjalan seiring dengan keandalan pasokan listrik, iklim investasi yang sehat, serta pemenuhan kebutuhan listrik masyarakat maupun sektor industri.
Pada tingkat daerah, Guru Besar Teknik Elektro ITS sekaligus Dewan Pakar MKI Jawa Timur, Prof. Dr. Mochamad Ashari, menilai Jawa Timur memiliki peluang besar menjadi penggerak pengembangan energi terbarukan nasional.
Provinsi tersebut memiliki potensi EBT sekitar 188 gigawatt (GW) yang didominasi energi surya dan angin. Dalam RUPTL 2025-2034, Jawa Timur juga ditargetkan menambah kapasitas pembangkit EBT sebesar 4.251 megawatt (MW).
"Jawa Timur memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu motor pengembangan energi baru terbarukan nasional. Namun percepatannya tidak dapat dilakukan pemerintah saja. Diperlukan kolaborasi antara akademisi, industri, pemerintah, dan masyarakat agar potensi tersebut benar-benar menjadi kapasitas pembangkit yang nyata," kata Ashari.
Baca juga: PGN Godok Rencana Penyaluran Gas CNG untuk Kebutuhan Rumah Tangga
Dari kalangan industri, CEO PT Paiton Energy Fazil Erwin Alfitri mengingatkan bahwa transisi energi bukan berarti meninggalkan infrastruktur yang sudah ada. Menurutnya, teknologi baru perlu dikembangkan secara bertahap tanpa mengurangi keandalan pasokan listrik nasional.
"Transisi energi bukan berarti meninggalkan apa yang sudah kita miliki, tetapi bagaimana meningkatkan sistem yang ada sambil membangun teknologi dan kapasitas baru secara bertahap. Yang ingin dicapai adalah sistem energi yang semakin bersih, namun tetap andal untuk menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia," ujarnya.
Pembahasan Surabaya Electric Forum berlanjut hingga hari terakhir penyelenggaraan dengan mengangkat kesiapan sumber daya manusia, kebutuhan listrik sektor industri, serta strategi pembiayaan proyek ketenagalistrikan.
Melalui forum tersebut, pemerintah, akademisi, pelaku industri, dan lembaga keuangan sepakat bahwa keberhasilan transisi energi bergantung pada kolaborasi seluruh pihak untuk mempercepat implementasi kebijakan menuju sistem energi nasional yang lebih bersih, andal, dan berkelanjutan.