jatimnow.com - Di kota yang makin sibuk menghitung meter persegi, pajak reklame, tinggi gedung, dan angka investasi, ada sesuatu yang sering luput dari laporan pembangunan: manusia-manusia yang rela menua demi kebudayaan.
Mereka adalah wajah-wajah yang pernah tidur di kursi panjang Balai Pemuda Surabaya, menahan lapar demi latihan, dan lebih hafal jadwal pentas daripada jadwal makan.
Mereka mungkin tidak tercatat sebagai pemilik saham, tidak memiliki sirene pengawal, ataupun ruang VIP, tetapi dari tangan merekalah Surabaya pernah tampak berwibawa di hadapan dunia.
Baca juga: Dewan Kesenian Surabaya Laporkan Dugaan Hilangnya Aset Budaya ke Polisi
Menurut saya, generasi Balai Pemuda dan Dewan Kesenian Surabaya adalah bukti bahwa kebudayaan tidak pernah lahir dari kemewahan, melainkan dari ketekunan dan pengorbanan. Di lorong-lorong Balai Pemuda, tumbuh nama-nama yang bukan sekadar manusia, melainkan “api kecil” yang terus menyala tanpa perlu diumumkan.
Dari dunia teater lahir nama-nama seperti Basuki Rahmat, Farid Dimiyati, Prof. Dr. Sam ABD Pareno, Anang Hanani, Mukit Faturrozi, Akhudiat, Kasmadi Patrianus, Bawong SN, Her Rumenper, Harjono WS, Amir Kiah, Zainuri, Meimura, Luhur Kayungga, hingga Heru Budhiarto. Dari musik ada Leo Kristi, Gombloh, dan Jabo Franky.
Sementara mereka yang kata-katanya terasa seperti “ludah panas di muka kekuasaan” hadir melalui Gatot Kusumo, Bambang Sujiono, Kadarruslan, Wiek Herwiyatmo, RM Yunani, Wiek Hidayat, Sabrot D. Malioboro, dr. Zulkifli Ekomey, Aribowo, dan Krisman Hadi. Mereka menjadikan seni dan pentas bukan sekadar hiburan, tetapi cara bertahan hidup secara batin.
Di bidang sastra muncul Mohammad Ali Sirikit Syah, Arif, B. Prasetyo, Aming Aminudin, Yudo Herbeno, Artur John Horoni, Sasetyo Wilutama, Imung Mulyanto, Jil Kalaran, dan Widodo Basuki, orang-orang yang percaya bahwa kata-kata bisa lebih tajam daripada rapat anggaran.
Di seni rupa ada Dariono, Amang Rachman, Rudi Isbandi, Krisna Mustadjab, Wiek Hidayat, M. Thalib Prasojo, Pono, AS Suud, Purono Sambowo, Syaiful Hajar, dan Agus Kucing, para penakluk kanvas yang hidup pas-pasan tetapi mampu membuat warna lebih hidup daripada pidato pejabat.
Di jurnalistik ada Anis, Henry Nurcahyo, Rokhim Dakas Pocheh, Deky, dan Amang Mawardi. Belum lagi para deklamator dan pembaca puisi andal seperti Hermin, Nindy, Nazar Al Batati, Utami Ragil Budi, Endang Ramli, Ria Adam, Sifak Indana, dan Heti Palestina Yunani.
Mereka semua seolah menganut “agama” yang sama: agama tapa pamrih. Sebuah keyakinan yang tidak menjanjikan mobil dinas, jabatan komisaris, ataupun proyek miliaran. Hanya satu hal yang mereka percaya: kota tanpa kebudayaan hanyalah tumpukan semen yang pandai berbicara.
Baca juga: Menata Kebudayaan dengan Helm Proyek atau Tikar Musyawarah?
Balai Pemuda pada masa itu bukan sekadar gedung, melainkan kawah Candradimuka. Orang datang dengan satu bakat lalu pulang membawa banyak kemampuan.
Pemain teater bisa menulis puisi, penyair bisa melukis poster, pelukis bisa menjadi pemain film, dan penata musik bisa ikut demo kebudayaan sambil membawa pengeras suara yang kadang lebih sering mati daripada hidup. Multitalenta bukan tren, melainkan cara bertahan hidup.
Karena itu, tidak mengherankan bila seniman Surabaya terbiasa hidup dengan semboyan sederhana: “Pokok e iso berkarya, pentas disik.” Semangat inilah yang membuat Dewan Kesenian Surabaya berkali-kali rela mengalah soal ruang.
Pernah berpindah, pernah tersingkir, bahkan pernah merasa seperti tamu di rumah sendiri. Dari kawasan yang kini menjadi gedung DPRD Kota Surabaya di belakang Masjid As-Sakinah, hingga bertahan di sudut-sudut yang bahkan kadang tidak layak disebut pusat kebudayaan kota besar.
Namun justru dari ruang-ruang sempit itulah lahir pikiran-pikiran luas. Dari kursi reyot lahir hubungan kota kembar lintas negara. Dari kopi pahit eceran lahir Festival Seni Surabaya. Dari honor nol rupiah lahir persaudaraan. Barangkali karena para seniman itu sadar bahwa kebudayaan memang jarang menang cepat, tetapi selalu memiliki umur panjang.
Baca juga: Bukan Pengosongan, Ketika Para Tokoh Berpikir Tentang Ibu Kota Provinsi Jatim
Mereka sesungguhnya tidak sedang membangun gedung. Mereka sedang membangun ingatan. Dan ingatan adalah satu-satunya bangunan yang tidak bisa digusur oleh Satpol PP.
Kini, ketika kota lebih mudah membangun mal daripada ruang kesenian, nama-nama itu seperti masih bergentayangan di pelataran Balai Pemuda. Kadang terdengar dari suara tawa para seniman tua, kadang muncul bersama asap rokok di malam hari, dan kadang hidup kembali dalam pertunjukan kecil dengan lima penonton tetapi tepuk tangan yang terasa sebesar stadion.
Bagi saya, tapa pamrih itulah yang membuat Surabaya tetap memiliki nyawa. Sebab kota ini tidak hanya dibangun oleh beton dan aspal, tetapi juga oleh manusia-manusia keras kepala yang percaya bahwa panggung boleh kecil, lampu boleh redup, tetapi martabat kebudayaan tidak boleh ikut dipadamkan.
Oleh: Meimura
Budayawan Surabaya